Selasa, 06 Desember 2011

Al-Qur'an Surat 1 Al-Baqarah ayat 35 - 39

Terjemahan Al-Qur'an Surat 1 Al-Baqarah ayat 35 sampai dengan ayat 39:
Al Baqarah Ayat 35: Dan Kami berfirman: "Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Al Baqarah Ayat 36: Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".

Al Baqarah Ayat 37: Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Al Baqarah Ayat 38: Kami berfirman: "Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".

Al Baqarah Ayat 39: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Jumat, 02 Desember 2011

~R.E.M.I.N.D.E.R~


Assalamualaikum..

perkongsian bersama untuk kita, set reminder kat minda dan telefon bimbit masing-masing.. akan tarikh-tarikh penting ni~

wassalam..

Fadilat Puasa Assyura

Alhamdulillah, saat ini kita telah berada di bulan Muharram. Mungkin masih banyak yang belum tahu amalan apa saja yang dianjurkan di bulan ini, terutama mengenai amalan puasa. Insya Allah kita akan membahasnya pada tulisan kali ini. Semoga bermanfaat.

Dianjurkan Banyak Berpuasa di Bulan Muharram
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk banyak melakukan puasa pada bulan tersebut sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”[1]
An Nawawi -rahimahullah- menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram.”[2]

Lalu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui banyak berpuasa di bulan Sya’ban bukan malah bulan Muharram? Ada dua jawaban yang dikemukakan oleh An Nawawi.

Pertama: Mungkin saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui keutamaan banyak berpuasa di bulan Muharram di akhir hayat hidup beliau.

Kedua: Boleh jadi pula beliau memiliki udzur ketika berada di bulan Muharram (seperti bersafar atau sakit) sehingga tidak sempat menunaikan banyak puasa pada bulan Muharram.[3]
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab -pen) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah).”[4]
Sesuai penjelasan Ibnu Rajab, puasa sunnah (tathowwu’) ada dua macam:

Puasa sunnah muthlaq. Sebaik-baik puasa sunnah muthlaq adalah puasa di bulan Muharram.

Puasa sunnah sebelum dan sesudah yang mengiringi puasa wajib di bulan Ramadhan. Ini bukan dinamakan puasa sunnah muthlaq. Contoh puasa ini adalah puasa enam hari di bulan Syawal.[5]

Di antara sahabat yang gemar melakukan puasa pada bulan-bulan haram (termasuk bulan haram adalah Muharram) yaitu ‘Umar, Aisyah dan Abu Tholhah. Bahkan Ibnu ‘Umar dan Al Hasan Al Bashri gemar melakukan puasa pada setiap bulan haram.[6] Bulan haram adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijah, Muharram dan Rajab.

Puasa yang Utama di Bulan Muharram adalah Puasa ‘Asyura

Dari hari-hari yang sebulan itu, puasa yang paling ditekankan untuk dilakukan adalah puasa pada hari ’Asyura’ yaitu pada tanggal 10 Muharram[7]. Berpuasa pada hari tersebut akan menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu. Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”[8]

An Nawawi -rahimahullah- mengatakan, “Para ulama sepakat, hukum melaksanakan puasa ‘Asyura untuk saat ini (setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, -pen) adalah sunnah dan bukan wajib.”[9]

Sejarah Pelaksanaan Puasa ‘Asyura[10]

Tahapan pertama: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.

Dari ’Aisyah -radhiyallahu ’anha-, beliau berkata,
كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِصلى الله عليه وسلميَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura.Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).”[11]

Tahapan kedua: Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullahshallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”[12]

Apakah ini berarti Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniru-niru (tasyabbuh dengan) Yahudi?

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambiasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliaushallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.”[13]

Para ulama berselisih pendapat apakah puasa ‘Asyura sebelum diwajibkan puasa Ramadhan dihukumi wajib ataukah sunnah mu’akkad? Di sini ada dua pendapat:

Pendapat pertama: Sebelum diwajibkan puasa Ramadhan, pada masa tahapan kedua, puasa ‘Asyura dihukumi wajib. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad dan Abu Bakr Al Atsrom.

Pendapat kedua: Pada masa tahapan kedua ini, puasa ‘Asyura dihukumi sunnah mu’akkad. Ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i dan kebanyakan dari ulama Hambali.[14]

Namun yang jelas setelah datang puasa Ramadhan, puasa ‘Asyura tidaklah diwajibkan lagi dan dinilai sunnah. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama sebagaimana disebutkan oleh An Nawawi -rahimahullah-.[15]

Tahapan ketiga: Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidakmemerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabishallallahu ’alaihi wa sallammengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.
Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”[16]

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.”[17]

Intinya, puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan masih tetap dianjurkan (disunnahkan).

Tahapan keempat: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.
Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ - إِنْ شَاءَ اللَّهُ - صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,
فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.”[18]

Menambahkan Puasa 9 Muharram

Sebagaimana dijelaskan di atas (pada hadits Ibnu Abbas) bahwa di akhir umurnya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan Muharram untuk menyelisihi Ahlu Kitab. Namun beliau sudah keburu meninggal sehingga beliau belum sempat melakukan puasa pada hari itu.

Lalu bagaimana hukum menambahkan puasa pada hari kesembilan Muharram? Berikut kami sarikan penjelasan An Nawawi rahimahullah.
Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabishallallahu ’alaihi wa sallamberpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan.

Apa hikmah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menambah puasa pada hari kesembilan? An Nawawirahimahullah melanjutkan penjelasannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh(menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja. Dalam hadits Ibnu Abbas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari ’Asyura’ (tanggal 10 Muharram). Pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasa Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam.[19]
Ibnu Rojab mengatakan, ”Di antara ulama yang menganjurkan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus adalah Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad, dan Ishaq. Adapun Imam Abu Hanifah menganggap makruh jika seseorang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.”[20]

Intinya, kita lebih baik berpuasa dua hari sekaligus yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Karena dalam melakukan puasa ‘Asyura ada dua tingkatan yaitu:Tingkatan yang lebih sempurna adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram sekaligus.Tingkatan di bawahnya adalah berpuasa pada 10 Muharram saja.[21]

Puasa 9, 10, dan 11 Muharram

Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. 
Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asy Syura[22]. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambersabda,
صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً
Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, Ibnu Khuzaimah, Ibnu ’Adiy, Al Baihaqiy, Al Bazzar, Ath Thohawiy dan Al Hamidiy, namun sanadnya dho’if (lemah). Di dalam sanad tersebut terdapat Ibnu Abi Laila -yang nama aslinya Muhammad bin Abdur Rahman-, hafalannya dinilai jelek. Juga terdapat Daud bin ’Ali. Dia tidak dikatakan tsiqoh kecuali oleh Ibnu Hibban. Beliau berkata, ”Daud kadang yukhti’ (keliru).” Adz Dzahabiy mengatakan bahwa hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah (dalil).
Namun, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata,
خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ
Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.” Sanad hadits ini adalahshohih, namun diriwayatkan secara mauquf (hanya dinilai sebagai perkataan sahabat). [23]
Catatan: Jika ragu dalam penentuan awal Muharram, maka boleh ditambahkan dengan berpuasa pada tanggal 11 Muharram.

Imam Ahmad -rahimahullah- mengatakan, ”Jika ragu mengenai penentuan awal Muharram, maka boleh berpuasa pada tiga hari (hari 9, 10, dan 11 Muharram, pen) untuk kehati-hatian.”[24]

Sebagai Motivasi

Semoga kita terdorong untuk melakukan puasa Asyura. Cukup ayat ini sebagai renungan. Allah Ta’alaberfirman,

كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
(Kepada mereka dikatakan): “Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.” (QS. Al Haqqah: 24)
Mujahid dan selainnya mengatakan, ”Ayat ini turun pada orang yang berpuasa. Barangsiapa meninggalkan makan, minum, dan syahwatnya karena Allah, maka Allah akan memberi ganti dengan makanan dan minuman yang lebih baik, serta akan mendapat ganti dengan pasangan di akhirat yang kekal (tidak mati).”[25] Inilah balasan untuk orang yang gemar berpuasa.
Insya Allah tanggal 9 dan 10 Muharram tahun ini bertepatan dengan tanggal  5 dan 6 Desember 2011.

Semoga Allah memudahkan kita untuk melakukan amalan puasa ini. Hanya Allah yang memberi taufik.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Artikel http://rumaysho.com

Di Mana Allah?

Mengapa manusia melakukan kejahatan? Para ulama memberi tiga sebab yang utama – pertama, tidak yakin kepada Allah. Kedua, tidak yakin akan adanya Hari Akhirat dan ketiga, kerana terlalu cinta kepada diri lalu mengambaikan orang lain. Solanya, mengapa orang Islam pun masih melakukan kejahatan?

Ya, kerana kita hanya percaya kepada ketiga-tiga perkara di atas tetapi tidak yakin. Kalau ditanyakan apa bezanya antara percaya dan yakin? Terlalu jauh bezanya. Percaya itu di akal, dimiliki oleh pemikiran dengan belajar. Manakala yakin itu di hati, dimiliki dengan tarbiah dan mujahadah.

Sebab pertama dan kedua dinamakan Iman – yakin kepada Allah dan Hari Akhirat. Kedua sebab itu menumbuhkan sebab yang ketiga yakni ukhwah atau persaudaraan (kasih sayang). Dengan iman kepada Allah, terbentuklah kasih sayang sesama manusia. Jika ditanya, siapakah manusia yang paling kasih kepada manusia lain? Jawabnya, mudah. Siapa yang paling kasih kepada Allah maka dialah yang paling kasih kepada manusia.

Mengapa begitu? Kerana jika kita ingin mengasihi Allah, Allah letakkan syarat agar kita mengasihi hambaNya. Allah minta manusia yang hendak mengasihiNya menjadi saluran untuk Dia mengasihi hamba-hambaNya yang lain. Kita mesti menjadi saluran Allah untuk menyalurkan ilmu, rezeki, kasih, sayang, keadilanNya kepada manusia.

Jadi, jika kenyataan ini dipandang dari sisi yang lain, kita boleh tegaskan begini: Hanya orang yang hatinya benar-benat yakin kepada Allah sahaja boleh menabur kebaikan dengan seikhlas-ikhlasnya kepada manusia lain. Jika ada manusia yang ingin menaburkan jasa dan kebaikan kepada manusia, tetapi tidak nampak sedikitpun keseriusannya untuk mendekati Allah, maka hubaya-hubaya (berjati-hati), besar kemungkinan dia hanya berpura-pura. Boleh jadi dia memberi untuk mendapat pulangan yang lebih besar lagi!

Betapa ramai manusia yang mendabik dada ingin membuat kebaikan kepada manusia lain tetapi mengabaikan hubungannya dengan Allah. Mungkin sama ramainya dengan manusia yang mendakwa hubungannya sangat akrab dengan Allah tetapi meminggirkan hubungan sesama manusia. Inilah yang telah  menimbulkan golongan manusia yang gila kuasa, cinta kedudukan, dan obsesi ekonomi… kononnya untuk meneruskan legasi jasa kepada orang lain.      

Jangan kita lupa ‘yakin kepada Allah’ adalah kunci kepada segala kebaikan dan kejujuran. Dan jangan kita lupa pula ‘cinta kepada dunia’ itu kepala kepada segala kejahatan. Jika Allah dipinggirkan dalam diri, keluarga, masyarakat, pertubuhan, negeri atau sesebuah negara, maka jangan sekali-kali kita percaya dakwaan diri itu, keluarga itu, keluarga, pertubuhan, negeri atau negara itu untuk berjasa kepada manusia!

 Seruan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengamalkan syariat dan akhlak Islamiah mesti mendominasi seruan-seruan yang lain. Dasar dakwah Islamiah adalah mengajak orang ramai merdeka daripada penghambaan sesama manusia untuk bebas menghambakan diri kepada Allah. Menyedarkan manusia agar memburu kelapangan Hari Akhirat dengan meninggalkan kesempitan dunia – maksudnya, menggunakan nikmat dunia untuk menadapatkan kenikmatan syurga! Dan akhirnya, meninggalkan kezaliman sistem hidup buatan manusia untuk mendapat naungan keadilan sistem hidup Islam.

 Di mana Allah dalam hati, keluarga, masyarakat dan pertubuhan kita? Itulah satu muhasabah untuk difikirkan jika kita benar-benar jujur untuk menabur bakti kepada manusia. Inilah jalan para rasul, nabi, sahabat-sahabat dan umumnya para salafussoleh yang telah banyak menabur bakti kepada manusia lain. Merekalah individu yang rapat dengan ummah untuk mengetahui apa masalah mereka dan akrab dengan Allah untuk membantu manusia menyelesaikan masalah-masalah itu!

Marilah kita imbau enekdot-enekdot dalam lipatan sejarah untuk mengetahui betapa roh tauhid itulah yang menjadi obor kepada perjuangan mereka untuk menabur bakti kepada manusia lain… Mereka adalah insan yang berbakti kepada manusia lalu dikurniakan kuasa, bukan menjadikan kuasa sebagai syarat untuk menabur jasa. Allah jualah yang memberi kuasa dan menarik kuasa kepada sesiapa yang dikehendakiNya.

Marilah kita renungi sama-sama renungi apa yang pernah saya tuliskan dalam buku: DI MANA DIA DI HATIKU?
Semasa Rasulullah s.a.w dan Sayidina Abu Bakar bersembunyi di gua Thaur, dalam perjalanan untuk hijrah ke Madinah, musuh-musuh Islam sudah berdiri di hadapan pintu gua dan hampir menemui mereka… Ketika Sayidina Abu Bakar cemas, Rasulullah s.a.w menenangkannya dengan berkata, “jangan takut, Allah bersama kita.” Itulah kehebatan Rasulullah, Allah sentiasa di hatinya.

Sewaktu Da’thur seorang tentera musuh menyerang hendap Rasulullah saw lalu meletakkan pedang ke leher nabi Muhammad saw dan bertanya, “siapa akan menyelamatkan kamu daripada ku?”

Rasulullah saw dengan yakin menjawab, “Allah.” Mendengar jawapan itu gementarlah Da’thur  dan pedang pun terlepas daripada tangannya. Itulah kehebatan Rasulullah saw… ada DIA di hati baginda.

Diceritakan bahawa suatu ketika khalifah Umar Al Khattab ingin menguji seorang budak gembala kambing di tengah sebuah padang pasir.

“Boleh kau jualkan kepada ku seekor daripada kambing-kambing yang banyak ini?” tanyanya kepada budak tersebut.

“Maaf tuan, tidak boleh. Kambing ini bukan saya yang punya. Ia milik tuan saya. Saya hanya diamanahkan untuk menjaganya sahaja.”

“Kambing ini terlalu banyak dan tidak ada sesiapa selain aku dan kamu di sini, jika kau jualkan seekor kepada ku dan kau katakan kepada tuan mu bahawa kambing itu telah dimakan oleh serigala, tuan mu tidak akan mengetahuinya,” desak Sayidina Umar lagi sengaja menguji.

“Kalau begitu di mana Allah?” kata budak itu. Sayidina Umar terdiam dan kagum dengan keimanan yang tinggi di dalam hati budak itu. Walaupun hanya seorang gembala kambing yakni pekerja bawahan, tetapi dengan kejujuran dan keimanannya dia punya kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Jelas ada DIA di hatinya.

Satu ketika yang lain, Sayidina Khalid Al Walid diturunkan daripada pangkatnya sebagai seorang jeneral menjadi seorang askar biasa oleh khalifah Umar. Esoknya, Sayidina Khalid ke luar ke medan perang dengan semangat yang sama. Tidak terjejas perasaan dan semangat jihadnya walaupun telah diturunkan pangkat. Ketika ditanya mengapa, Sayidina Khalid menjawab, “aku berjuang bukan kerana Umar.” Ya, Sayidina Khalid berjuang kerana Allah. Ada DIA di hatinya.

Melihat enekdot-enekdot agung itu, aku terkesima lalu bertanya pada diri ku sendiri, di manakah DIA dalam hati ku? Apakah Allah sentiasa menjadi pergantungan harapan dan tempat merujuk dan membujuk hati ku yang rawan? Allah ciptakan manusia hanya dengan satu hati. Di sanalah sewajarnya cinta Allah bersemi. Jika cinta Allah yang bersinar, sirnalah segala cinta yang lain. Tetapi jika sebaliknya cinta selain-Nya yang ada di situ, maka cinta Allah akan terpinggir . Ketika itu tiada DIA di hati ku!

Sering diri ku berbicara sendiri, bersendikan sedikit ilmu dan didikan daripada guru-guru dalam hidup ku, kata mereka (dan aku sangat yakin dengan kata itu), “ bila Allah ada di hati mu, kau seolah-olah memiliki segala-galanya. Itulah kekayaan, ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki. ”

Kata-kata itu sangat menghantui diriku. Ia menyebabkan aku berfikir, merenung dan bermenung, apakah Allah menjadi tumpuan dalam hidup ku? Apakah yang aku fikir, rasa, lakukan dan laksanakan sentiasa merujuk kepada-Nya? Bila bertembung antara kehendak-Nya dengan kehendak ku, kehendak siapa aku dahulukan? Sanggupkah aku menyayangi hanya kerananya? Tegakah aku membenci juga kerananya?

Muhasabah ini melebar lagi… Lalu aku tanyakan pada diri, bagaimana sikapku terhadap hukum-hakam Mu? Sudahkah aku melawan hawa nafsu untuk patuh dan melakukan segala yang wajib sekalipun perit dan sakit ketika melaksanakannya? Sudahkah aku meninggalkan segala yang haram walaupun kelihatan indah dan seronok ketika ingin melakukannya?

Soalan-soalan ini sesungguhnya telah menimbulkan lebih banyak persoalan.  Bukan akal yang menjawabnya, tetapi rasa hati yang amat dalam. Aku tidak dapat mendustai Mu ya Allah. Dan aku juga tidak dapat mendustai diri ku sendiri. Aku teringat bagaimana satu ketika seorang sufi diajukan orang dengan satu soalan, “apakah engkau takutkan Allah?”

Dia menangis dan menjawab, “aku serba salah untuk menjawab ya atau tidak. Jika aku katakan tidak, aku akan menjadi seorang yang kufur. Sebaliknya kalau aku katakan ya, aku terasa menjadi seorang munafik. Sikap ku amat berbeza dengan kata-kata. Orang yang takutkan Allah bergetar hatinya bila mendengar ayat-ayat Allah tetapi aku tidak…” Maksudnya, sufi itu sendiri tidak dapat menjawab apakah ada DIA di hatinya…

Jika seorang sufi yang hatinya begitu hampir dengan Allah pun sukar bila ditanyakan apakah ada dia di hatinya, lebih-lebih aku yang hina dan berdosa ini. Di hati ku masih ada dua cinta yang bergolak dan berbolak-balik. Antara cinta Allah dan cinta dunia sedang berperang dengan begitu hebat dan dahsyat sekali.

Kalau kau tanyakan aku, “adakah DIA di hati mu?”, aku hanya mampu menjawab, “aku seorang insan yang sedang bermujahadah agar ada DIA di hati ku. Aku belum sampai ke tahap mencintai-Nya tetapi aku yakin aku telah memulakan langkah untuk mencintai-Nya…”

Justeru belum ada DIA di hati ku, hidup ku belum bahagia, belum tenang dan belum sejahtera. Aku akan terus mencari dengan langkah mujahadah ini. Aku yakin Allah itu dekat, pintu keampunan-Nya lebih luas daripada pintu kemurkaan-Nya. Selangkah aku mendekat, seribu langkah DIA merapat. Begitu seperti yang selalu ku dengar daripada sebuah hadis Qudsi yang panjang.

Dan akhirnya aku tiba pada satu keyakinan, di mana DIA di hati ku bukan menagih satu jawapan… tetapi satu perjuangan dan pengorbanan. Insya-Allah, aku yakin pada suatu masa nanti akan ada DIA di hatiku dan di hatimu jua! Insya-Allah. Amin.

genta-rasa.com

Kamis, 01 Desember 2011

Al-Qur'an Surat 1 Al-Baqarah ayat 30-34

Terjemahan Al-Qur'an Surat 1 Al-Baqarah ayat 30 sampai dengan ayat 34.
Al Baqarah Ayat 30: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".Ayat 22: Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

Al Baqarah Ayat 31: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

Al Baqarah Ayat 32: Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Al Baqarah Ayat 33:  Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

Al Baqarah Ayat 34: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.

Sebelum Mata Terlena

Sebelum mata terlena
Di buaian malam gelita
Tafakurku di pembaringan
Mengenangkan nasib diri

Yang kerdil lemah yang bersalut dosa
Mampukah ku mengharungi titian sirat nanti
Membawa dosa yang menggunung tinggi
Terkapai ku mencari limpahan hidayah Mu

Agar terlerai kesangsian hati ini
Sekadar air mata tak mampu membasuhi dosa ini

Sebelum mata terlena
Dengarlah rintihan hati ini
Tuhan beratnya dosa ku
Tak daya ku pikul sendiri

Hanyalah rahmat dan kasih sayang Mu
Yang dapat meringankan hulurkan maghfirah Mu
Andainya esok bukan milik ku lagi
Dan mata pun ku tak pasti akan terbuka lagi

Sebnelum berangkat ke daerah sana
Lepaskan beban ini
Yang mencengkam jiwa dan raga ku

Selimut diri ku
Dengan sutra kasih sayang Mu
Agar lena nanti ku mimpikan
Syurga yang indah abadi

Pabila ku terjaga
Dapat lagi ku rasai
Betapa harumnya
Wangian syurga firdausi oh Ilahi

Disepertiga malam
Sujud ku menghambakan diri
Akan ku teruskan pengabdian ku pada Mu

hijjaz~ sebelum mata terlena

bahasa jiwa, siapa yang mengerti?

Tidak semua insan yang bersama kita mengerti perasaan yang ada dalam diri ini
Juga tidak memahami akan gelora jiwa yang ada pada diri ini
Janganlah selalu mengharapkan orang lain harus mengerti akan perasaan diri ini
Hatta dia adalah teman paling rapatmu..

Kerana perasaan adalah bahasa hati
Yang dapat berubah setiap masa dan ketika

Hari ini,
Mungkin dia adalah teman yang sangat mengerti akan perasaan hatimu
Hari esok,
Mungkin esok ia adalah orang yang paling tidak memahamimu

Janganlah memaksa
Kerana dia juga hanyalah seorang manusia biasa
Cukuplah hanya Allah tempat mencurahkan segala isi yang ada di hati
Tumpahkanlah segala perasaan yang ada di jiwa
Tidak semua manusia mengerti segala perasaan yang ada di hati kita
Bahasa hati adalah bahasa jiwa,
Hanya yang Maha Hidup mengerti... 

[biarlah titisan air mata menjadi nilaian kasih sayang kerana Dia]