Terjemahan Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 35 sampai dengan 43, sebagai berikut: Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 35: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 36: Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebus diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 37: Mereka ingin ke luar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat ke luar daripadanya, dan mereka beroleh azab yang kekal.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 38: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 39: Maka barang siapa bertobat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 40: Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 41: Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah" Barang siapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 42: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka maka mereka tidak akan memberi mudarat kepadamu sedikit pun. Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 43: Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.
Minggu, 27 Januari 2013
Kamis, 24 Januari 2013
Al Qur'an Surat Al Maidah Ayat 26-34
Al-Qur'an Surat Al Maidah ayat 26 sampai dengan ayat 34, sebagai berikut: Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 26: Allah berfirman: "(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu."
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 27:Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 28:"Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 29:"Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh) ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang lalim."
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 30:Maka hawa nafsu Kabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 31:Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 32: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 33: Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar,
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 34: kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Minggu, 20 Januari 2013
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 18-25
Al-Qur'an Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 18 sampai dengan Surat Al-Maidah Ayat 25, sebagai berikut: Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 18: Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 19: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: "Tidak datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 20: Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain".
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 21:Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 22: Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya."
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 23: Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 24: Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja."
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 25: Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu"
Rabu, 16 Januari 2013
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 11-17
Al-Qu'an Terjemahan Surat Al-Maidah ayat 11 sampai dengan Surat Al-Maidah ayat 17, sebagai berikut: Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 11: Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 12: Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus".
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 13: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 14: Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 15: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 16: Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 17: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 12: Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus".
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 13: (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 14: Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah Kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebahagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 15: Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 16: Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
Al-Quran Surat Al-Maidah Ayat 17: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi semuanya?" Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kamis, 10 Januari 2013
Doa Shalat Dhuha
Doa adalah senjatanya orang beriman. Doa adalah ruhnya ibadah. Doa merupakan salah satu bukti ketergantungan manusia beriman kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Siapa pun Anda, pasti ingin doanya mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT. Posting kali ini adalah tentang doa shalat dhuha.
Doa sesudah sholat dhuha tidak dibatasi. Kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan. Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada paragraf berikut. Selain doa itu, kita boleh membaca doa yang kita sukai. Namun, karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA - WAL BAHAA ‘A BAHAA
‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA –
WALQUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.
ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN
KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA
YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA
BA’IIDAN FA QARRIBHU,
BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.
ARTINYA:
“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan
adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan
adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU - dan perlindungan
itu adalah perlindungan-MU.
Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – Dan
jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka
mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka
dekatkanlah
Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.
Tags yang terkait dengan doa sholat dhuha, doa sholat dhuha download, doa sholat dhuha latin, doa sholat dhuha tulisan arab, doa sholat dhuha mp3 download, doa sholat dhuha arab, doa sholat dhuha beserta artinya, doa sholat dhuha mp3, doa setelah sholat dhuha.
Doa sesudah sholat dhuha tidak dibatasi. Kita boleh berdoa apa saja asalkan bukan doa untuk keburukan. Doa yang terkenal dalam mazhab Syafi’i ada pada paragraf berikut. Selain doa itu, kita boleh membaca doa yang kita sukai. Namun, karena ada aturan mazhab, maka hendaklah kita jangan melupakan agar memulai doa itu dengan menyebut nama ALLAH, memuji syukur kepada-NYA dan kemudian bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
ALLAAHUMMA INNADH-DHUHAA ‘A DHUHAA ‘UKA - WAL BAHAA ‘A BAHAA
‘UKA – WAL JAMAALA JAMAALUKA – WAL QUWWATA QUWWATUKA –
WALQUDRATA QUDRATUKA – WAL ‘ISHMATA ‘ISHMATUKA.
ALLAAHUMMA IN KAANA RIZQII FIS-SAMAA ‘I FA ANZILHU – WA IN
KAANA FIL ARDI FA AKHRIJHU – WA IN KAANA MU’ASSARAN FA
YASSIRHU – WA IN KAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU – WA IN KAANA
BA’IIDAN FA QARRIBHU,
BIHAQQI DHUHAA ‘IKA, WA BAHAA ‘IKA, WAJAMAALIKA, WA QUWWATIKA, WA QUDRATIKA. AATINII MAA ‘ATAITA ‘IBAADAKASH-SHAALIHIIN.
ARTINYA:
“Wahai ALLAH, bahwasanya waktu Dhuha itu waktu Dhuha-MU – dan kecantikan
adalah kecantikan-MU – dan keindahan adalah keindahan-MU – dan kekuatan
adalah kekuatan-MU – dan kekuasaan adalah kekuasaan-MU - dan perlindungan
itu adalah perlindungan-MU.
Wahai ALLAH, jikalau rejekiku masih diatas langit, maka turunkanlah – Dan
jikalau ada didalam bumi maka keluarkanlah – dan jikalau sukar maka
mudahkanlah – dan jika haram maka sucikanlah - dan jikalau masih jauh maka
dekatkanlah
Dengan berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan Dan kekuasaan-MU.
Limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hambamu yang shaleh.
Tags yang terkait dengan doa sholat dhuha, doa sholat dhuha download, doa sholat dhuha latin, doa sholat dhuha tulisan arab, doa sholat dhuha mp3 download, doa sholat dhuha arab, doa sholat dhuha beserta artinya, doa sholat dhuha mp3, doa setelah sholat dhuha.
Rabu, 09 Januari 2013
Doa Saat Sedang Galau
Istilah galau sedang ngetren. Banyak dipakai dan digunakan, khususnya dikalangan ABG (remaja dan pelajar). Ada istilah SMS Galau, Status Galau, Pesan galau, kata-kata galau dan semisalnya. Intinya, menggambarkan kondisi perasaan atau pikiran yang tidak enak. Perasaan tidak menentu. Rasanya ada yang kurang. Ada yang tidak beres. Tidak jelas apa sebabnya.
Kalau menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008) halaman 407, dikatakan “galau” itu berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak keruan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Jika merujuk ke definisi ini, keadaan galau adalah saat pikiran sedang kacau tak keruan. Orang yang tengah galau pikirannya sedang kacau.
Hampir setiap orang pernah mengalami galau. Karena tabiat manusia sering berdosa. Dan dosa menjadi sesuatu yang tak bisa lepas dalam kehidupan manusia. berdosa juga menjadi tanda akan insaniyahnya. Karena setiap manusia pastilah berdosa sehingga dia harus menunduk dan merendahkan diri bertaubat dan memohon ampunan kepada Tuhannya.
Berikut ini ini penawar yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat galau datang, kesedihan hinggap, perasaan tak menentu menyerang. Sangat mujarab dan ampuh dosa ini sebagaimana yang dikabarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahan (kegundahan)-nya serta menggantikannya dengan kegembiraan."
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba laki-laki-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku pada diriku. Ketetapan-Mu adil atas diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur'an sebagai penyejuk hatiku, cahaya bagi dadaku dan pelipur kesedihanku serta pelenyap bagi kegelisahanku."
Doa di atas didasarkan pada hadits dari Abdullah bin Mas'ud radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seseorang tertimpa kegundahan (galau) dan kesedihan lalu berdoa (dengan doa di atas) . . . melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahan (keundahan)-nya serta menggantikannya dengan kegembiraan.
Ibnu Mas'ud berkata, "Ada yang bertanya, 'Ya Rasulallah, bolehkah kita mempelajarinya?' Beliau menjawab, 'Ya, sudah sepatutnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya'." (HR. Ahmad dalam Musnadnya I/391, 452, Al-Hakim dalam Mustadraknya I/509, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya VII/47, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2372, Al-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir no. 10198 –dari Maktabah Syamilah-. Hadits ini telah dishahihkan oleh Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim, keduanya banyak menyebutkannya dalam kitab-kitab mereka. Juga dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Takhriij Al-Adzkaar dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam al-Kalim al Thayyib hal. 119 no. 124 dan Silsilah Shahihah no. 199.)
Apabila yang Berdoa Seorang Wanita
Bentuk lafadz doa di atas untuk mudzakar (laki-laki), Ana 'Abduka (aku hamba laki-laki-Mu), Ibnu 'Abdika Wabnu Amatik (anak laki-laki dari hamba-laki-laki-Mu dan anak laki-laki dari hamba perempuan-Mu). Kalau yang berdoa adalah laki-laki tentunya lafadz tersebut tepat dan tidak menjadi persoalan. Namun, bila yang berdoa seorang muslimah, apakah dia harus mengganti lafadz di atas dengan bentuk mu'annats (untuk perempuan), yaitu dengan Allaahumma Inni Amatuk, Ibnatu 'Abdika, Ibnatu Amatik (Ya Allah aku adalah hamba wanita-Mu, anak perempuan dari hamba laki-laki-Mu dan anak perempuan dari hamba perempuan-Mu)?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah ditanya tentang seorang wanita yang mendengar doa di atas, tapi dia tetap berpegang dengan lafadz hadits. Lalu ada yang berkata padanya, ucapkan, "Allahumma Inni Amatuk . . . ." namun dia menolak dan tetap memilih lafadz dalam hadits, apakah dia dalam posisi yang benar ataukah tidak?
Kemudian beliau menjawab, "Selayaknya dia mengucapkan dalam doanya, "Allahumma Inni Amatuk, bintu amatik . . ." dan ini adalah yang lebih baik dan tepat, walaupun ucapannya, 'Abduka, ibnu 'abdika memiliki pembenar dalam bahasa Arab seperti lafadz zauj (pasangan; bisa digunakan untuk suami atau istri-pent), wallahu a'lam." (Majmu' Fatawa Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah: 22/488)
Syaikh Abdul 'Aziz bin Baaz rahimahullah pernah juga ditanya tentang cara berdoanya seorang wanita dengan doa tersebut. Apakah wanita itu tetap mengucapkan, "wa ana 'abduka wabnu 'abdika" (dan saya adalah hamba laki-laki-Mu dan anak laki-laki dari hamba laki-laki-Mu) ataukah harus mengganti dengan, "Wa ana amatuk, ibnu 'andika atau bintu 'abdika"?
Tags yang terkait dengan doa dan galau, galau, puisi galau,lagu galau, status galau, kata2 galau, pantun galau, obat galau, cerita galau, radio galau, berdoa, adab berdoa, berdoa ketika hujan, berdoa ketika haid, cara berdoa yang benar, berdoa dan usaha, cara berdoa kristen, berdoa ketika sujud, cara berdoa novena 3 salam maria.
Minggu, 06 Januari 2013
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 6-10
Al-Quran terjemahan Surat Al-Maidah ayat 6 sampai dengan Surat Al-Maidah ayat 10, sebagai berikut: Surat Al-Maidah Ayat 6: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.
Surat Al-Maidah Ayat 7: Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu).
Surat Al-Maidah Ayat 8: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Surat Al-MaidahAyat 9:Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Surat Al-MaidahAyat 10:Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.
Surat Al-Maidah Ayat 7: Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan: "Kami dengar dan kami taati". Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hati (mu).
Surat Al-Maidah Ayat 8: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Surat Al-MaidahAyat 9:Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
Surat Al-MaidahAyat 10:Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.
4 Cara Untuk Istiqamah Dalam Ketaatan - Habib Ali Al Jufri
Al Allama Habib Ali Al Jufri menggariskan 4 perkara yang mengandungi cara untuk kita mengekalkan ketaatan kita kepada Allah SWT. Manusia sememangnya terkenal dengan sifat putus asa dan futur, terutama di dalam perihal ibadah kepada Allah SWT. Perkataan 'An Nas' itu sendiri berasal dari 'nasiya' bermaksud lupa.
Maka, kita selaku umat Islam yang masih lagi bertatih di dalam usaha mendapatkan kekuatan iman dari Allah SWT amat memerlukan panduan dari para ulama yang telah melalui pengalaman mujahadah yang penuh liku lebih awal dari kita. Menjadi sifat mereka mengamalkan setiap apa yang dilafazkan, dan apa yang dikeluar dari mulut mereka itu pastinya merupakan antara cara terbaik yang boleh kita amalkan dalam usaha merebut redha Allah SWT.
Pertama : Berdoa Kepada Allah
Tiada ketaatan yang dapat dibina melainkan dengan ketentuan dan izin Allah SWT. Dengan kata lain, kita tidak mampu untuk melakukan walau satu ketaatan melainkan dengan izin Allah dan tidak mampu untuk kita meninggalkan walau satu maksiat melainkan dengan kekuatan dari Allah dan izinNya.
Maka, kita hendaklah sentiasa berdoa mengharapkan Allah mempermudahkan urusan ketaatan kita, memberikan khusyuk dalam ibadah, memberikan kekuatan untuk beramal dan memberikan kekuatan untuk bermujahadah melawan nafsu dan syaitan. Al Allama Habib memberikan contoh berkenaan wasita yang Rasulullah SAW berikan kepada Saidina Muaz bin Jabal di dalam hadith yang bermaksud :
Mu’az bin Jabal ra menceritakan bahawa suatu hari Rasulullah saw memegang tangannya seraya mengucapkan, “Hai Mu’az, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’az, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir solat hendaknya kamu berdoa, ‘Allahumma a’in ni ‘ala zikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu).” (HR Abu Daud)
Doa ini adalah doa yang mustajab bagi memohon kepada Allah untuk memimpin kita di dalam melakukan ketaatan. Sikap yang ditunjukkan Rasulullah SAW ini jelas mengajar kita untuk menghayati hakikat kehambaan yang ada dalam diri manusia. Baginda sendiri sebagai rasul utusan Allah, pastinya tidak mempunyai masalah di dalam kekuatan beramal, di mana Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan kekuatan kepada baginda.
Namun, ini langsung tidak menyebabkan Rasulullah SAW berhenti daripada mengharap kepada Allah, malah baginda menjadi hambaNya yang paling banyak berdoa dan mengharap kepadaNya. Ini teladan yang ditunjukkan Rasulullah SAW, semakin tinggi darjatnya di sisi Allah, maka semakin tunjuk hatinya kepada Allah.
Seperti yang dikatakan oleh Al Allama Syeikh Muhammad Sayyid Ramadhan Al Buti, Rasulullah SAW dipilih oleh Allah untuk bertemu denganNya di dalam peristiwa Isra Mikraj disebabkan sifat kehambaan yang terlalu tinggi berada dalam diri Rasulullah SAW. Ini dibuktikan dengan firman Allah di dalam surah Al Isra ayat pertama yang menyebut diri baginda sebagai 'hamba' bukannya sebagai 'rasul'.
Kedua : Menjaga Mata, Telinga dan Mulut
Tiga pancaindera ini merupakan pancaindera utama yang membentuk peribadi seseorang manusia. Dengan mata, kita dapat melihat alam ini dan mempelajari pelbagai perkara yang dapat kita lihat. Dengan bantuan telinga, manusia dapat mendengar dan memberikan respon terhadap apa yang disuarakan dan dimaklumkan kepada kita. Dengan mulut pula, kita dapat berinteraksi sesama manusia dan dapat menzahirkan segala keinginan dengan cara melafazakannya melalui mulut.
Kata Habib Ali Al Jurfi, hendaklah kita menjaga tiga perkara ini daripada melakukan kemungkaran kepada Allah. Mata yang dikurnaikan Allah ini janganlah digunakan untuk melihat kepada perkara yang haram. Begitu juga dengan telinga, janganlah mendengar kepada perkara yang haram, perkara yang keji, atau mendengar keburukan orang lain. Mulut yang dikurniakan Allah hendaklah dipelihara dari bercakap perkara yang sia-sia, menyakiti hati orang lain, berbohong, mengumpat, memfitnah dan bercakap perkara yang melalaikan.
Manusia yang dapat menjaga tiga pancaindera ini daripada perkara mungkar yang tidak disukai Allah, maka hatinya akan diberihkan, seterusnya dia akan dipermudahkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Sesunggunya, hati yang kotor kerana perbuatan tiga anggota ini merupakan antara asbab utama kita tidak mampu istiqamah di dalam ketaatan. Hati yang kotor lebih mudah untuk cenderung kepada maksiat dan sangat berat untuk melakukan ketaatan kerana tiada nur iman yang menyinarinya.
Ketiga : Hati Sentiasa Hadir Bersama Allah Ketika Beribadah
Kebanyakan di kalangan kita menjadikan ibadah itu sebagai adat dan kebiasaan, melakukannya kerana sudah dirutinkan dan diprogram di dalam aktiviti harian kita. Ini menyebabkan kita beribadah sekadar untuk melepaskan diri daripada kewajipan,seterusnya ibadah itu berlalu tanpa memberikan kesan ke dalam hati kita. Ibadah demi ibadah dilakukan, tetapi hati tetap jauh dari Allah SWT.
Kita selalunya menunaikan solat sekadar mana yang boleh melepaskan diri kita dari kefardhuannya. Maka, solat yang dilakukan tidak sempurna, fikiran jauh melayang entah ke mana, semua masalah datang di dalam fikiran di dalam solat, difikirkan masalah tersebut hingga tamat solat dalam keadaan kita tidak sedar langsung apakah perbuatan yang kita lakukan sepanjang solat sebentar tadi. Adakah sempurna rukun dan syaratnya? Apatah lagi perkara sunat di dalam solat, langsung tidak dilakukan, berpada dengan perkara wajib sahaja.
Hendaklah kita melakukan solat itu seperti para sahabat dan tabiin, bukan sekadar melaksanakan rakaat demi rakaat. Malah, setiap rakaat itu memberikan bekas ke dalam hati kita dan meningkatkan iman kita. Kita perlu menghadirkan ke dalam hati kita bahawa kita sedang menyembah Allah, Tuhan sekelian alam, Raja segala raja. Berdirinya kita sebagai hamba yang pandangan sentiasa tunduk ke bawah, tanda akur dengan kebesaran dan kekuasaan Allah. Rukuk kita dengan perasaan takzim kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung. Sujud kita dengan perasaan penuh kehambaan dan kehinaan di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.
Membaca Al Quran itu bukan sekadar membaca huruf demi huruf dan ayat demi ayat. Malah menghayati setiap bacaan itu dengan penuh teliti. Jika seseorang itu memahami Bahasa Arab, maka hendaklah membaca Al Quran itu dengan penghayatan kepada maknanya dan apa yang diceritakan di dalamnya. Jika tidak memahami Bahasa Arab, lafazkan bacaan Quran itu dengan tartil, sempurna tajwid dan makhrajnya. Jika boleh membuat bacaan berlagu, maka lagukan bacaan Al Quran dengan baik. Setiap bacaan kita itu kita sedari bahawa kita sedang membaca kalam-kalam Allah, iaitu kalam yang teragung di seluruh alam semesta.
Diceritakan bahawa Saidina Ikrimah RA ketika ingin membaca Al Quran, selepas membukanya, terus masuk kebesaran dan keagungan Allah ke dalam hatinya. Lantas berkata "Ini kalam Tuhanku. Ini kalam Tuhanku. Ini kalam TuhanKu." Lantas beliau menangis lantaran rasa ketakutan dan bergetar hatinya terhadap kebesaran Allah walaupun belum membacanya lagi, kerana beliau dpaat merasakan bahawa kalam Allah berada di hadapanya dan ianya teramat agung.
Begitulah dengan ibadah lain, hendaklah dilakukan dengan menghadirkan hati kita bersama Allah. Benar, ianya bukan syarat sah ibadah, namun di situlah kesempurnaan ibadah. Ibadah yang sempurna sahaja yang dapat membina ikatan kukuh antara hamba dan Penciptanya. Manakala ibadah yang tiada penghayatan, umpama baju buruk yang bertampal sana sini. Cukup sekadar menutup aurat, namun kelihatan hodoh sekali
Menghadirkan hati bersama Allah di dalam ibadah sememangnya sukar dilakukan. Ia memerlukan mujahadah dan kesungguhan kita sebagai hamba Allah. Kemungkinan besar ianya tidak akan hadir semasa kita ingin membacanya pada hari ini, esok, lusa dan minggu hadapan. Namun, berkat usaha kita yang berterusan, Allah yang Maha Pemurah pasti akan memberikan nikmat ini kepada kita selepas kita berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Ianya berbeza kepada mereka yang malu kepada Allah tidak bertempat dan putus asa dengan rahmatNya, dengan tidak berusaha untuk mendapatkan nikmat ini, pastinya nikmat ini tidak akan hadir selamanya.
Keempat : Meletakkan Had Minima Ibadah Harian
Cara keempat yang ditambah oleh Habib Ali Al Jufri adalah meletakkan kadar minimum untuk setiap ibadah harian kita supaya ianya tidak berkurang dari had tersebut dan mengelakkan diri kita dari meninggalkannya terus. Ini merupakan salah satu cara yang berkesan untuk mendapatkan istiqamah. Ini adalah kerana di dalam konsep istiqamah, bukan kuantiti ibadah menjadi keutamaan, tetapi penerusan di dalam pengamalan walaupun sedikit.
Hendaklah kita meletakkan had pada ibadah kita seperti tidak akan meninggalkan sama sekali solat fardhu secara berjemaah. Lewat mana sekali pun kita solat, mungkin disebabkan urusan yang tidak dapat dilewatkan, maka hendaklah kita mengusahakan agar solat itu dilakukan secara berjemaah.
Kita boleh meletakkan had bahawa wajib untuk kita membaca Al Quran paling sedikit satu muka surat dalam sehari. Maka, apa jua perkara yang berlaku, pastinya kita membaca Al Quran setiap hari dan tidak melanggar had minima ini, dalam keadaan kita hendaklah sentiasa mencari peluang untuk memperbanyakkan bacaan Al Quran dan tidak berpada dengan satu muka surat setiap hari.
Demikian perkongsian Al Habib Ali Al Jufri berkenaan cara untuk mengekalkan ketaatan dan istiqamah di dalam amalan. Semoga kita dapat mengamalkannya, seterusnya mengekalkan ketaatan kita kepada Allah hingga hujung nyawa kita.
* Tazkirah Habib Ali Al Jufri ini adalah mengkhususkan cara istiqamah amalan semasa bulan Ramadhan. Namun saya luaskan skopnya kepada amalan harian kita sepanjang tahun. Artikel di atas adalah bercampur-campur antara isi yang disampaikan oleh Al Fadhil Habib dan juga huraian saya sendiri.
Mohd Azrul Azuan bin Idris.
5 Oktober 2012, 11.35 pm.
Maka, kita selaku umat Islam yang masih lagi bertatih di dalam usaha mendapatkan kekuatan iman dari Allah SWT amat memerlukan panduan dari para ulama yang telah melalui pengalaman mujahadah yang penuh liku lebih awal dari kita. Menjadi sifat mereka mengamalkan setiap apa yang dilafazkan, dan apa yang dikeluar dari mulut mereka itu pastinya merupakan antara cara terbaik yang boleh kita amalkan dalam usaha merebut redha Allah SWT.
Pertama : Berdoa Kepada Allah
Tiada ketaatan yang dapat dibina melainkan dengan ketentuan dan izin Allah SWT. Dengan kata lain, kita tidak mampu untuk melakukan walau satu ketaatan melainkan dengan izin Allah dan tidak mampu untuk kita meninggalkan walau satu maksiat melainkan dengan kekuatan dari Allah dan izinNya.
Maka, kita hendaklah sentiasa berdoa mengharapkan Allah mempermudahkan urusan ketaatan kita, memberikan khusyuk dalam ibadah, memberikan kekuatan untuk beramal dan memberikan kekuatan untuk bermujahadah melawan nafsu dan syaitan. Al Allama Habib memberikan contoh berkenaan wasita yang Rasulullah SAW berikan kepada Saidina Muaz bin Jabal di dalam hadith yang bermaksud :
Mu’az bin Jabal ra menceritakan bahawa suatu hari Rasulullah saw memegang tangannya seraya mengucapkan, “Hai Mu’az, demi Allah sesungguhnya aku benar-benar mencintaimu. Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.” Lalu beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu hai Mu’az, jangan kamu tinggalkan bacaan setiap kali di akhir solat hendaknya kamu berdoa, ‘Allahumma a’in ni ‘ala zikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan beribadah dengan baik kepadaMu).” (HR Abu Daud)
Doa ini adalah doa yang mustajab bagi memohon kepada Allah untuk memimpin kita di dalam melakukan ketaatan. Sikap yang ditunjukkan Rasulullah SAW ini jelas mengajar kita untuk menghayati hakikat kehambaan yang ada dalam diri manusia. Baginda sendiri sebagai rasul utusan Allah, pastinya tidak mempunyai masalah di dalam kekuatan beramal, di mana Allah sentiasa melimpahkan rahmat dan kekuatan kepada baginda.
Namun, ini langsung tidak menyebabkan Rasulullah SAW berhenti daripada mengharap kepada Allah, malah baginda menjadi hambaNya yang paling banyak berdoa dan mengharap kepadaNya. Ini teladan yang ditunjukkan Rasulullah SAW, semakin tinggi darjatnya di sisi Allah, maka semakin tunjuk hatinya kepada Allah.
Seperti yang dikatakan oleh Al Allama Syeikh Muhammad Sayyid Ramadhan Al Buti, Rasulullah SAW dipilih oleh Allah untuk bertemu denganNya di dalam peristiwa Isra Mikraj disebabkan sifat kehambaan yang terlalu tinggi berada dalam diri Rasulullah SAW. Ini dibuktikan dengan firman Allah di dalam surah Al Isra ayat pertama yang menyebut diri baginda sebagai 'hamba' bukannya sebagai 'rasul'.
Kedua : Menjaga Mata, Telinga dan Mulut
Tiga pancaindera ini merupakan pancaindera utama yang membentuk peribadi seseorang manusia. Dengan mata, kita dapat melihat alam ini dan mempelajari pelbagai perkara yang dapat kita lihat. Dengan bantuan telinga, manusia dapat mendengar dan memberikan respon terhadap apa yang disuarakan dan dimaklumkan kepada kita. Dengan mulut pula, kita dapat berinteraksi sesama manusia dan dapat menzahirkan segala keinginan dengan cara melafazakannya melalui mulut.
Kata Habib Ali Al Jurfi, hendaklah kita menjaga tiga perkara ini daripada melakukan kemungkaran kepada Allah. Mata yang dikurnaikan Allah ini janganlah digunakan untuk melihat kepada perkara yang haram. Begitu juga dengan telinga, janganlah mendengar kepada perkara yang haram, perkara yang keji, atau mendengar keburukan orang lain. Mulut yang dikurniakan Allah hendaklah dipelihara dari bercakap perkara yang sia-sia, menyakiti hati orang lain, berbohong, mengumpat, memfitnah dan bercakap perkara yang melalaikan.
Manusia yang dapat menjaga tiga pancaindera ini daripada perkara mungkar yang tidak disukai Allah, maka hatinya akan diberihkan, seterusnya dia akan dipermudahkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Sesunggunya, hati yang kotor kerana perbuatan tiga anggota ini merupakan antara asbab utama kita tidak mampu istiqamah di dalam ketaatan. Hati yang kotor lebih mudah untuk cenderung kepada maksiat dan sangat berat untuk melakukan ketaatan kerana tiada nur iman yang menyinarinya.
Ketiga : Hati Sentiasa Hadir Bersama Allah Ketika Beribadah
Kebanyakan di kalangan kita menjadikan ibadah itu sebagai adat dan kebiasaan, melakukannya kerana sudah dirutinkan dan diprogram di dalam aktiviti harian kita. Ini menyebabkan kita beribadah sekadar untuk melepaskan diri daripada kewajipan,seterusnya ibadah itu berlalu tanpa memberikan kesan ke dalam hati kita. Ibadah demi ibadah dilakukan, tetapi hati tetap jauh dari Allah SWT.
Kita selalunya menunaikan solat sekadar mana yang boleh melepaskan diri kita dari kefardhuannya. Maka, solat yang dilakukan tidak sempurna, fikiran jauh melayang entah ke mana, semua masalah datang di dalam fikiran di dalam solat, difikirkan masalah tersebut hingga tamat solat dalam keadaan kita tidak sedar langsung apakah perbuatan yang kita lakukan sepanjang solat sebentar tadi. Adakah sempurna rukun dan syaratnya? Apatah lagi perkara sunat di dalam solat, langsung tidak dilakukan, berpada dengan perkara wajib sahaja.
Hendaklah kita melakukan solat itu seperti para sahabat dan tabiin, bukan sekadar melaksanakan rakaat demi rakaat. Malah, setiap rakaat itu memberikan bekas ke dalam hati kita dan meningkatkan iman kita. Kita perlu menghadirkan ke dalam hati kita bahawa kita sedang menyembah Allah, Tuhan sekelian alam, Raja segala raja. Berdirinya kita sebagai hamba yang pandangan sentiasa tunduk ke bawah, tanda akur dengan kebesaran dan kekuasaan Allah. Rukuk kita dengan perasaan takzim kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung. Sujud kita dengan perasaan penuh kehambaan dan kehinaan di hadapan Allah Yang Maha Tinggi.
Membaca Al Quran itu bukan sekadar membaca huruf demi huruf dan ayat demi ayat. Malah menghayati setiap bacaan itu dengan penuh teliti. Jika seseorang itu memahami Bahasa Arab, maka hendaklah membaca Al Quran itu dengan penghayatan kepada maknanya dan apa yang diceritakan di dalamnya. Jika tidak memahami Bahasa Arab, lafazkan bacaan Quran itu dengan tartil, sempurna tajwid dan makhrajnya. Jika boleh membuat bacaan berlagu, maka lagukan bacaan Al Quran dengan baik. Setiap bacaan kita itu kita sedari bahawa kita sedang membaca kalam-kalam Allah, iaitu kalam yang teragung di seluruh alam semesta.
Diceritakan bahawa Saidina Ikrimah RA ketika ingin membaca Al Quran, selepas membukanya, terus masuk kebesaran dan keagungan Allah ke dalam hatinya. Lantas berkata "Ini kalam Tuhanku. Ini kalam Tuhanku. Ini kalam TuhanKu." Lantas beliau menangis lantaran rasa ketakutan dan bergetar hatinya terhadap kebesaran Allah walaupun belum membacanya lagi, kerana beliau dpaat merasakan bahawa kalam Allah berada di hadapanya dan ianya teramat agung.
Begitulah dengan ibadah lain, hendaklah dilakukan dengan menghadirkan hati kita bersama Allah. Benar, ianya bukan syarat sah ibadah, namun di situlah kesempurnaan ibadah. Ibadah yang sempurna sahaja yang dapat membina ikatan kukuh antara hamba dan Penciptanya. Manakala ibadah yang tiada penghayatan, umpama baju buruk yang bertampal sana sini. Cukup sekadar menutup aurat, namun kelihatan hodoh sekali
Menghadirkan hati bersama Allah di dalam ibadah sememangnya sukar dilakukan. Ia memerlukan mujahadah dan kesungguhan kita sebagai hamba Allah. Kemungkinan besar ianya tidak akan hadir semasa kita ingin membacanya pada hari ini, esok, lusa dan minggu hadapan. Namun, berkat usaha kita yang berterusan, Allah yang Maha Pemurah pasti akan memberikan nikmat ini kepada kita selepas kita berusaha bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Ianya berbeza kepada mereka yang malu kepada Allah tidak bertempat dan putus asa dengan rahmatNya, dengan tidak berusaha untuk mendapatkan nikmat ini, pastinya nikmat ini tidak akan hadir selamanya.
Keempat : Meletakkan Had Minima Ibadah Harian
Cara keempat yang ditambah oleh Habib Ali Al Jufri adalah meletakkan kadar minimum untuk setiap ibadah harian kita supaya ianya tidak berkurang dari had tersebut dan mengelakkan diri kita dari meninggalkannya terus. Ini merupakan salah satu cara yang berkesan untuk mendapatkan istiqamah. Ini adalah kerana di dalam konsep istiqamah, bukan kuantiti ibadah menjadi keutamaan, tetapi penerusan di dalam pengamalan walaupun sedikit.
Hendaklah kita meletakkan had pada ibadah kita seperti tidak akan meninggalkan sama sekali solat fardhu secara berjemaah. Lewat mana sekali pun kita solat, mungkin disebabkan urusan yang tidak dapat dilewatkan, maka hendaklah kita mengusahakan agar solat itu dilakukan secara berjemaah.
Kita boleh meletakkan had bahawa wajib untuk kita membaca Al Quran paling sedikit satu muka surat dalam sehari. Maka, apa jua perkara yang berlaku, pastinya kita membaca Al Quran setiap hari dan tidak melanggar had minima ini, dalam keadaan kita hendaklah sentiasa mencari peluang untuk memperbanyakkan bacaan Al Quran dan tidak berpada dengan satu muka surat setiap hari.
Demikian perkongsian Al Habib Ali Al Jufri berkenaan cara untuk mengekalkan ketaatan dan istiqamah di dalam amalan. Semoga kita dapat mengamalkannya, seterusnya mengekalkan ketaatan kita kepada Allah hingga hujung nyawa kita.
* Tazkirah Habib Ali Al Jufri ini adalah mengkhususkan cara istiqamah amalan semasa bulan Ramadhan. Namun saya luaskan skopnya kepada amalan harian kita sepanjang tahun. Artikel di atas adalah bercampur-campur antara isi yang disampaikan oleh Al Fadhil Habib dan juga huraian saya sendiri.
Mohd Azrul Azuan bin Idris.
5 Oktober 2012, 11.35 pm.
ALL IS WELL..
Pernah saya katakan, kita akan diuji melalui apa yang kita sayangi dan dengan apa yang selalu kita katakan. Inilah hakikat yang saya alami semasa cuba berdakwah dalam rangka untuk mendidik diri disamping mendidik orang lain. Saya cuba memujuk hati dengan berkata, “ketika Allah menguji kita dengan apa yang kita sering dakwahkan kepada orang lain, itu petanda Allah mengingatkan kita ketika kita mengingatkan orang lain.” Agar kita tidak memperkatakan apa yang tidak amalkan…
Namun, suara hati juga mengingatkan, supaya terus melakukan kebaikan (berdakwah)… bukan kerana kita sudah baik tetapi itulah cara kita hendak menjadi orang yang baik. Ya Allah, berilah petunjuk kepada kebimbangan hati ini… kerana ujian di jalan dakwah ini kekadang dirasakan terlalu berat berbanding iman yang begitu tipis. Hati sering dipujuk untuk mengakui satu hakikat: Allah tidak akan menguji di luar kemampuan seorang hamba untuk menghadapinya.
Sahabat-sahabat dan saudara-saudaraku, aku sedang diuji. Begitu juga dengan kamu, dan kita semua. Lalu untuk memujuk hati ketika menerima tarbiah Ilahi ini saya nukilkan tulisan ini untuk saya dan kita semuanya… Tajuknya: ALL IS WELL – semuanya baik belaka.
“Ustaz kata kecemerlangan dunia itu bayangan kecemerlangan akhirat?”
“Ya, “akui saya pendek.
“Atas dasar apa?”
“Berdasarkan kata Imam Syafei, dunia itu adalah tanaman untuk akhirat.”
“Maksudnya?”
“Dunia tempat kita menyemai, akhirat tempat kita menuai. Jika kita hendak merasai buah yang manis dan banyak , sudah sewajarnya pokok yang kita tanam baik dan subur.”
“Saya belum faham…”
Saya merenung wajah pelajar yang sebaya dengan anak saya itu. Dia benar-benar inginkan penjelasan. Terasa masih jauh pendekatan dakwah saya berbanding ulama-ulama silam – yang bercakap dengan jelas, tepat dan lemah lembut.
“Begini nak… jika kita hendak menikmati buah yang manis di akhirat, mestilah pohon yang kita tanam di dunia subur. Maksudnya, di dunia lagi hidup kita mesti cemerlang, itulah petanda di akhirat nanti kita akan cemerlang.”
“Kalau begitu malanglah kalau kita jadi orang miskin, pekerjaan kita buruh, pangkat kita rendah dan kita jadi orang yang biasa-biasa sahaja di dunia.”
“Mengapa begitu?” saya bertanya kehairanan.
“Ya, bukankah orang miskin, marhein dan orang yang biasa-biasa itu dianggap tidak cemerlang di dunia?”
Saya mengurut dada. Mujur dia bertanya.
“Perspektif Islam mengenai kejayaan berbeza dengan takrifan majoriti masyarakat hari ini. Menjadi miskin, seorang buruh dan marhein setelah berusaha bersungguh-sungguh, bukan bererti gagal. Itu hanya ujian dalam kehidupan.”
Di dalam hati saya bertekad ingin menjelaskan konsep hidup di dunia sebagai ujian terlebih dahulu. Setelah itu baru saya ingin menerangkan erti kejayaan dalam Islam. Ya, lulus ujian baru berjaya.
“Apa maksud dengan ujian kehidupan?” tanyanya lagi. Alhamdulillah, dia membuka ruang untuk saya memberi penjelasan. Memang benar seperti yang selalu dikatakan, pertanyaan itu kunci kepada ilmu.
“Bila Allah beri kita kaya, belum bererti Allah memuliakan kita… Allah baru menguji kita. Begitu juga apabila Allah berikan kemiskinan buat kita… itu bukan menunjukkan Allah sedang menghina kita tetapi sebaliknya Allah sedang menguji kita. Bukan itu sahaja, apabila Allah kurniakan kuasa, menarik kuasa, rupa yang cantik, rupa yang buruk, ternama atau biasa-biasa sahaja, semuanya ujian untuk kita.”
“Ujian untuk apa ustaz?”
“Ujian sama ada kita mengingati-Nya atau tidak, mentaatinya atau tidak, “ jawab saya.
Melihat dia terdiam, saya menyambung penjelasan, “ orang miskin boleh berjaya jika dalam miskinnya dia mengingati Allah dengan kesabarannya. Orang kaya, mengingati Allah dengan kesyukurannya. Yang berkuasa, menegakkan keadilan kerana Allah. Yang marhein, patuh dan setia kerana Allah juga. Situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami bukan penentu kejayaan kita tetapi respons kita terhadap kondidi itu yang lebih penting. Apakah kita bertindak balas dengan apa yang kita hadapi seperti selayaknya seorang hamba Allah? Seorang hamba Allah sentiasa mengingati Allah dalam apa jua keadaan, positif mahupun positif…”
“Maksudnya, yang negatif pun jadi positif?”
“Ya, semuanya baik, bergantung pada tindak-balas diri kita. ‘All is well’ – semuanya baik. Ya, semua yang datang dari Allah adalah baik belaka kerana semua itu hanya ujian buat kita. Jika kita menghadapinya dengan hati yang sabar, syukur atau redha… ya kita berjaya!”
“Jadi ada orang kaya, berkuasa dan ternama di dunia ini boleh dianggap gagal?”
“Bukan boleh dianggap gagal tetapi mereka memang gagal. Sekiranya dengan ujian kesenangan, kekuasaan, kenamaan dan kecantikan itu mereka tidak bersuyukur, zalim, kufur, malah takbur kepada Allah dan sesama manusia. Sebaliknya orang miskin, marhein dan melarat itu hakikatnya berjaya sekiranya mereka mengingati Allah dalam kesabarannya.”
“Tetapi kalau mereka miskin kerana malas… tidak gigih mencari ilmu, menambah kemahiran dan ilmu, lalu mereka sabar, apakah itu juga boleh dikatakan berjaya?”
Kritikal betul cara berfikir pelajar ni, bisik hati saya.
“Orang malas bukan orang yang ingat Allah. Sabar itu bukan pasif dan tidak produktif. Sabar itu aktif dan produktif. Orang yang ingat Allah, akan ingat akhirat. Orang yang ingat akhirat akan sentiasa sibuk di dunia…”
“Orang yang ingat akhirat akan sibuk di dunia?”
“Ya, sebab dia sedar dia hendak menuai di akhirat, jadi sibuklah dia menanam di dunia. Dunia ini jadi kebunnya… Lihat orang berkebun, dia akan sibuk menebas, menggempur, menyemai benih, memberi baja, mengairi, menjaga tanamannya dari serangga dan macam-macam lagi… Begitulah orang yang hendak menuai di akhirat, akan sibuk di dunia.”
“ Agaknya inilah yang dimaksudkan orang yang paling bijak ialah orang yang mengingati mati dan membuat persediaan untuk menghadapinya…”
“Benar. Benar sekali. Sebaliknya, sipemalas ialah orang yang dungu, bukan orang yang sabar. Dia tidak akan dapat pahala sabar… sebaliknya mendapat dosa kerana kemalasannya.”
“Malas itu satu dosa?”
“Ya, malas itu satu dosa. Cara bertaubat dari dosa malas ialah dengan gigih bekerja. Kita adalah khalifah di muka bumi. Seorang khalifah wajib memberi kebaikan kepada diri, orang di sekelilingnya dan alam sekitarnya. Untuk itu dia mesti rajin. Bagaimana seorang pemalas boleh melaksanakan tugasnya sebagai khalifah?”
Saya teringat khutbah yang baru saya dengar bulan lalu. Yang boleh saya simpulkan daripada kata khatib itu ialah, keadaan yang kita hadapi atau apa yang kita miliki, bukan pengukur kejayaan kita. Sebaliknya, kejayaan kita terletak kepada sejauh mana diri kita mengingati Allah ketika memiliki sesuatu atau semasa kita menghadapi suatu situasi.
Akan saya sampaikan semula apa yang saya terima kepada pelajar itu, insyaAllah. Ya, saya masih ingat ketika khatib itu menegaskan:” Kejayaan Nabi Ibrahim AS bukan kerana baginda tidak terjejas oleh api yang dinyalakan oleh Namrud tetapi kerana ketika di dalam nyalaan api itu Nabi Ibrahim mengingati Allah, kerana kalau kejayaan itu diukur pada tidak terjejas jasad baginda oleh api, apakah kita mengatakan bahawa ‘ashabul ukhdud’ yang terbakar kerana mempertahankan tauhid itu tidak berjaya? Apakah Masyitah dan anaknya yang terkorban apabila dihumban ke dalam api oleh Firaun itu tidak berjaya?
“Khatib itu menambah lagi:” Jika kita katakan, kejayaan itu kepada keadaan Nabi Ismail yang tidak jadi disembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS dengan digantikan dengan seekor kibyas… apakah Nabi Zakaria AS yang syahid dan terbelah dua kerana digergaji oleh musuh Allah itu tidak berjaya? Apakah Sumayyah yang mati ditusuk lembing oleh kafir Quraisy itu tidak berjaya?”
Tanpa disedari air mata mengalir apabila Khatib itu berkata, “tuan-tuan, Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria, Sumayyah dan Asyhabul Ukhdud semuanya berjaya… walaupun situasi ujian yang mereka hadapi berbeza. Justeru, yang menentukan suatu kejayaan bukan situasi tetapi respons hati mereka ketika menghadapi situasi itu. Respons hati mereka tetap sama, walaupun situasi yang mereka hadapi berbeza.”
“Respons hati mereka hanya mengingati Allah,” ujar pelajar itu.
“Ujian tidak akan menghina atau memuliakan kita tetapi reaksi atau respons kita terhadap ujian itulah yang memuliakan atau menghinakan kita. Yang sabar dan syukur, jadi mulia… lalu mereka berjaya. Yang putus asa dan takbur, jadi hina… lalu mereka gagal. Sering diungkapkan oleh bijak-pandai, jika dapat limau manis, bersyukurlah. Sebaliknya jika dapat limau masam, jangan kecewa… buatlah air limau!”
“Jadi berjaya di dunia itu letaknya pada hati?” rumus pelajar yang bijak itu.
“Ya. Terletak pada ‘qalbun salim’ – hati yang sejahtera. Hati yang boleh dimiliki oleh sikaya, simiskin, ternama, marhein, sicantik, yang hodoh, pemerintah mahupun rakyat. Hati itulah yang dinilai oleh Allah di Padang Mahsyar kelak ketika semua anak-pinak dan harta-benda tidak berguna lagi…”
Saya menambah lagi,“ Hati yang ingat Allah pada setiap masa, ketika dan keadaan apa pun jua. Itulah kejayaan! Allah Maha adil tidak meletakkan kejayaan kepada yang lain kerana ujian hidup manusia yang ditakdirkan berbeza-beza. Namun berbeza-beza ujian itu matlamatnya sama… sejauh mana kita merasakan kita hamba Allah dan kepadaNya kita akan dikembalikan!”
“Bukankah itu makna ucapan istirja’ - innalillah wa in na ilaihi rajiun? – kami milik Allah, kepadaNya kami akan kembali,” balas pelajar itu.
Saya mengangguk perlahan, seraya berkata, “hati itulah anakku… yang perlu kita miliki sebelum kembali. Itulah ‘syurga’ di hati kita. Itulah kecemerlangan di dunia yang menjadi petanda kecemerlangan akhirat. Jika di hati kita belum ada syurga itu ketika hidup di dunia… maka sukarlah kita mendapat syurga yang kekal abadi di akhirat nanti!”
“Apa yang perlu kita lakukan ustaz?”
Saya terdiam. Di dalam hati terlalu sebak. Masih jauh hati ini dengan ‘syurga’ dunia. Dan alangkah jauhnya dengan syurga akhirat.
“Anakku, kita akan terus diuji. Beruntunglah kerana ujian ini masih ada. Allah masih sudi menguji kita. Hidup masih berbaki. Kalau gagal, kita masih berpeluang untuk mengulang. Mencintai syurga bukan bererti meminggirkan dunia… kerana ada ‘syurga’ di sini, yang wajib kita miliki sebelum layak menikmati syurga di sana.”
“Syurga di hati kita…”
“Yang ditempa oleh setiap hamba Allah yang sejati… dengan keringat, dengan air mata dan sesetengahnya dengan darah. “
“Hidup di dunia untuk menderita?”
“Tidak anakku… hidup di dunia untuk diuji. Kita akan tenang, berjaya dan bahagia selagi Allah ada di hati kita. Ingat, ‘all is well’, kerana semuanya dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila diuji, jangan katakan.” ya Allah, ujian-Mu sangat besar. Tetapi katakan, wahai ujian, aku ada Allah yang Maha besar.”
‘Allah is bigger than your problems… insyaAllah, all is well!’ . Tetap adalah lautan kasihNya di sebalik ujianNya yang setitis.
http://genta-rasa.com
nota:
qalbun salim... hati yang sejahtera,
all is well, all is well, all is well,
what ever happen back to Allah..
Namun, suara hati juga mengingatkan, supaya terus melakukan kebaikan (berdakwah)… bukan kerana kita sudah baik tetapi itulah cara kita hendak menjadi orang yang baik. Ya Allah, berilah petunjuk kepada kebimbangan hati ini… kerana ujian di jalan dakwah ini kekadang dirasakan terlalu berat berbanding iman yang begitu tipis. Hati sering dipujuk untuk mengakui satu hakikat: Allah tidak akan menguji di luar kemampuan seorang hamba untuk menghadapinya.
Sahabat-sahabat dan saudara-saudaraku, aku sedang diuji. Begitu juga dengan kamu, dan kita semua. Lalu untuk memujuk hati ketika menerima tarbiah Ilahi ini saya nukilkan tulisan ini untuk saya dan kita semuanya… Tajuknya: ALL IS WELL – semuanya baik belaka.
“Ustaz kata kecemerlangan dunia itu bayangan kecemerlangan akhirat?”
“Ya, “akui saya pendek.
“Atas dasar apa?”
“Berdasarkan kata Imam Syafei, dunia itu adalah tanaman untuk akhirat.”
“Maksudnya?”
“Dunia tempat kita menyemai, akhirat tempat kita menuai. Jika kita hendak merasai buah yang manis dan banyak , sudah sewajarnya pokok yang kita tanam baik dan subur.”
“Saya belum faham…”
Saya merenung wajah pelajar yang sebaya dengan anak saya itu. Dia benar-benar inginkan penjelasan. Terasa masih jauh pendekatan dakwah saya berbanding ulama-ulama silam – yang bercakap dengan jelas, tepat dan lemah lembut.
“Begini nak… jika kita hendak menikmati buah yang manis di akhirat, mestilah pohon yang kita tanam di dunia subur. Maksudnya, di dunia lagi hidup kita mesti cemerlang, itulah petanda di akhirat nanti kita akan cemerlang.”
“Kalau begitu malanglah kalau kita jadi orang miskin, pekerjaan kita buruh, pangkat kita rendah dan kita jadi orang yang biasa-biasa sahaja di dunia.”
“Mengapa begitu?” saya bertanya kehairanan.
“Ya, bukankah orang miskin, marhein dan orang yang biasa-biasa itu dianggap tidak cemerlang di dunia?”
Saya mengurut dada. Mujur dia bertanya.
“Perspektif Islam mengenai kejayaan berbeza dengan takrifan majoriti masyarakat hari ini. Menjadi miskin, seorang buruh dan marhein setelah berusaha bersungguh-sungguh, bukan bererti gagal. Itu hanya ujian dalam kehidupan.”
Di dalam hati saya bertekad ingin menjelaskan konsep hidup di dunia sebagai ujian terlebih dahulu. Setelah itu baru saya ingin menerangkan erti kejayaan dalam Islam. Ya, lulus ujian baru berjaya.
“Apa maksud dengan ujian kehidupan?” tanyanya lagi. Alhamdulillah, dia membuka ruang untuk saya memberi penjelasan. Memang benar seperti yang selalu dikatakan, pertanyaan itu kunci kepada ilmu.
“Bila Allah beri kita kaya, belum bererti Allah memuliakan kita… Allah baru menguji kita. Begitu juga apabila Allah berikan kemiskinan buat kita… itu bukan menunjukkan Allah sedang menghina kita tetapi sebaliknya Allah sedang menguji kita. Bukan itu sahaja, apabila Allah kurniakan kuasa, menarik kuasa, rupa yang cantik, rupa yang buruk, ternama atau biasa-biasa sahaja, semuanya ujian untuk kita.”
“Ujian untuk apa ustaz?”
“Ujian sama ada kita mengingati-Nya atau tidak, mentaatinya atau tidak, “ jawab saya.
Melihat dia terdiam, saya menyambung penjelasan, “ orang miskin boleh berjaya jika dalam miskinnya dia mengingati Allah dengan kesabarannya. Orang kaya, mengingati Allah dengan kesyukurannya. Yang berkuasa, menegakkan keadilan kerana Allah. Yang marhein, patuh dan setia kerana Allah juga. Situasi dan kondisi yang kita hadapi dan alami bukan penentu kejayaan kita tetapi respons kita terhadap kondidi itu yang lebih penting. Apakah kita bertindak balas dengan apa yang kita hadapi seperti selayaknya seorang hamba Allah? Seorang hamba Allah sentiasa mengingati Allah dalam apa jua keadaan, positif mahupun positif…”
“Maksudnya, yang negatif pun jadi positif?”
“Ya, semuanya baik, bergantung pada tindak-balas diri kita. ‘All is well’ – semuanya baik. Ya, semua yang datang dari Allah adalah baik belaka kerana semua itu hanya ujian buat kita. Jika kita menghadapinya dengan hati yang sabar, syukur atau redha… ya kita berjaya!”
“Jadi ada orang kaya, berkuasa dan ternama di dunia ini boleh dianggap gagal?”
“Bukan boleh dianggap gagal tetapi mereka memang gagal. Sekiranya dengan ujian kesenangan, kekuasaan, kenamaan dan kecantikan itu mereka tidak bersuyukur, zalim, kufur, malah takbur kepada Allah dan sesama manusia. Sebaliknya orang miskin, marhein dan melarat itu hakikatnya berjaya sekiranya mereka mengingati Allah dalam kesabarannya.”
“Tetapi kalau mereka miskin kerana malas… tidak gigih mencari ilmu, menambah kemahiran dan ilmu, lalu mereka sabar, apakah itu juga boleh dikatakan berjaya?”
Kritikal betul cara berfikir pelajar ni, bisik hati saya.
“Orang malas bukan orang yang ingat Allah. Sabar itu bukan pasif dan tidak produktif. Sabar itu aktif dan produktif. Orang yang ingat Allah, akan ingat akhirat. Orang yang ingat akhirat akan sentiasa sibuk di dunia…”
“Orang yang ingat akhirat akan sibuk di dunia?”
“Ya, sebab dia sedar dia hendak menuai di akhirat, jadi sibuklah dia menanam di dunia. Dunia ini jadi kebunnya… Lihat orang berkebun, dia akan sibuk menebas, menggempur, menyemai benih, memberi baja, mengairi, menjaga tanamannya dari serangga dan macam-macam lagi… Begitulah orang yang hendak menuai di akhirat, akan sibuk di dunia.”
“ Agaknya inilah yang dimaksudkan orang yang paling bijak ialah orang yang mengingati mati dan membuat persediaan untuk menghadapinya…”
“Benar. Benar sekali. Sebaliknya, sipemalas ialah orang yang dungu, bukan orang yang sabar. Dia tidak akan dapat pahala sabar… sebaliknya mendapat dosa kerana kemalasannya.”
“Malas itu satu dosa?”
“Ya, malas itu satu dosa. Cara bertaubat dari dosa malas ialah dengan gigih bekerja. Kita adalah khalifah di muka bumi. Seorang khalifah wajib memberi kebaikan kepada diri, orang di sekelilingnya dan alam sekitarnya. Untuk itu dia mesti rajin. Bagaimana seorang pemalas boleh melaksanakan tugasnya sebagai khalifah?”
Saya teringat khutbah yang baru saya dengar bulan lalu. Yang boleh saya simpulkan daripada kata khatib itu ialah, keadaan yang kita hadapi atau apa yang kita miliki, bukan pengukur kejayaan kita. Sebaliknya, kejayaan kita terletak kepada sejauh mana diri kita mengingati Allah ketika memiliki sesuatu atau semasa kita menghadapi suatu situasi.
Akan saya sampaikan semula apa yang saya terima kepada pelajar itu, insyaAllah. Ya, saya masih ingat ketika khatib itu menegaskan:” Kejayaan Nabi Ibrahim AS bukan kerana baginda tidak terjejas oleh api yang dinyalakan oleh Namrud tetapi kerana ketika di dalam nyalaan api itu Nabi Ibrahim mengingati Allah, kerana kalau kejayaan itu diukur pada tidak terjejas jasad baginda oleh api, apakah kita mengatakan bahawa ‘ashabul ukhdud’ yang terbakar kerana mempertahankan tauhid itu tidak berjaya? Apakah Masyitah dan anaknya yang terkorban apabila dihumban ke dalam api oleh Firaun itu tidak berjaya?
“Khatib itu menambah lagi:” Jika kita katakan, kejayaan itu kepada keadaan Nabi Ismail yang tidak jadi disembelih oleh ayahnya Nabi Ibrahim AS dengan digantikan dengan seekor kibyas… apakah Nabi Zakaria AS yang syahid dan terbelah dua kerana digergaji oleh musuh Allah itu tidak berjaya? Apakah Sumayyah yang mati ditusuk lembing oleh kafir Quraisy itu tidak berjaya?”
Tanpa disedari air mata mengalir apabila Khatib itu berkata, “tuan-tuan, Nabi Ibrahim, Nabi Zakaria, Sumayyah dan Asyhabul Ukhdud semuanya berjaya… walaupun situasi ujian yang mereka hadapi berbeza. Justeru, yang menentukan suatu kejayaan bukan situasi tetapi respons hati mereka ketika menghadapi situasi itu. Respons hati mereka tetap sama, walaupun situasi yang mereka hadapi berbeza.”
“Respons hati mereka hanya mengingati Allah,” ujar pelajar itu.
“Ujian tidak akan menghina atau memuliakan kita tetapi reaksi atau respons kita terhadap ujian itulah yang memuliakan atau menghinakan kita. Yang sabar dan syukur, jadi mulia… lalu mereka berjaya. Yang putus asa dan takbur, jadi hina… lalu mereka gagal. Sering diungkapkan oleh bijak-pandai, jika dapat limau manis, bersyukurlah. Sebaliknya jika dapat limau masam, jangan kecewa… buatlah air limau!”
“Jadi berjaya di dunia itu letaknya pada hati?” rumus pelajar yang bijak itu.
“Ya. Terletak pada ‘qalbun salim’ – hati yang sejahtera. Hati yang boleh dimiliki oleh sikaya, simiskin, ternama, marhein, sicantik, yang hodoh, pemerintah mahupun rakyat. Hati itulah yang dinilai oleh Allah di Padang Mahsyar kelak ketika semua anak-pinak dan harta-benda tidak berguna lagi…”
Saya menambah lagi,“ Hati yang ingat Allah pada setiap masa, ketika dan keadaan apa pun jua. Itulah kejayaan! Allah Maha adil tidak meletakkan kejayaan kepada yang lain kerana ujian hidup manusia yang ditakdirkan berbeza-beza. Namun berbeza-beza ujian itu matlamatnya sama… sejauh mana kita merasakan kita hamba Allah dan kepadaNya kita akan dikembalikan!”
“Bukankah itu makna ucapan istirja’ - innalillah wa in na ilaihi rajiun? – kami milik Allah, kepadaNya kami akan kembali,” balas pelajar itu.
Saya mengangguk perlahan, seraya berkata, “hati itulah anakku… yang perlu kita miliki sebelum kembali. Itulah ‘syurga’ di hati kita. Itulah kecemerlangan di dunia yang menjadi petanda kecemerlangan akhirat. Jika di hati kita belum ada syurga itu ketika hidup di dunia… maka sukarlah kita mendapat syurga yang kekal abadi di akhirat nanti!”
“Apa yang perlu kita lakukan ustaz?”
Saya terdiam. Di dalam hati terlalu sebak. Masih jauh hati ini dengan ‘syurga’ dunia. Dan alangkah jauhnya dengan syurga akhirat.
“Anakku, kita akan terus diuji. Beruntunglah kerana ujian ini masih ada. Allah masih sudi menguji kita. Hidup masih berbaki. Kalau gagal, kita masih berpeluang untuk mengulang. Mencintai syurga bukan bererti meminggirkan dunia… kerana ada ‘syurga’ di sini, yang wajib kita miliki sebelum layak menikmati syurga di sana.”
“Syurga di hati kita…”
“Yang ditempa oleh setiap hamba Allah yang sejati… dengan keringat, dengan air mata dan sesetengahnya dengan darah. “
“Hidup di dunia untuk menderita?”
“Tidak anakku… hidup di dunia untuk diuji. Kita akan tenang, berjaya dan bahagia selagi Allah ada di hati kita. Ingat, ‘all is well’, kerana semuanya dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila diuji, jangan katakan.” ya Allah, ujian-Mu sangat besar. Tetapi katakan, wahai ujian, aku ada Allah yang Maha besar.”
‘Allah is bigger than your problems… insyaAllah, all is well!’ . Tetap adalah lautan kasihNya di sebalik ujianNya yang setitis.
http://genta-rasa.com
nota:
qalbun salim... hati yang sejahtera,
all is well, all is well, all is well,
what ever happen back to Allah..
Kamis, 03 Januari 2013
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 1-5
Al-Qur'an Terjemahan Surat Al-Maidah Ayat 1 sampai dengan Surat Al-Maidah Ayat 5, sebagai berikut: Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 1: Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.
Al-Qur'an Surat Al-MaidahAyat 2: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 3: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 4: Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya".
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 5: Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.
Al-Qur'an Surat Al-MaidahAyat 2: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 3: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 4: Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya".
Al-Qur'an Surat Al-Maidah Ayat 5: Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.
Langganan:
Komentar (Atom)

