Jumat, 28 Desember 2012

Doa Ketika Turun Hujan

doa ketika hujan deras, doa ketika turun hujan, doa hujan, doa hujan rahmat, doa hujan lebat, doa hujan berhenti, doa hujan turun lebat, doa hujan turun
Islam mengajarkan banyak zikir dan doa pada beberapa kondisi. Semua itu agar hamba Allah selalu ingat dan kembali kepada-Nya. Menyadari bahwa semua kebaikan ada di tangan-Nya. Sehingga dia senantiasa berharap dan memohon kebaikan hanya kepada-Nya semata. lalu diikuti dengan syukur kepada-Nya dengan menggunakan nikmat untuk taat kepada-Nya. Dan seperti itu pula saat melihat hujan turun.

Berkaitan dengan hujan, Allah menjadikannya sebagai nikmat dan rahmat bagi makhluk-makhluk-Nya, tidak terkecuali kepada manusia. Bahkan Al-Qur'an menyebutkannya sebagai sumber kehidupan.
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
"Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS. Al-Anbiya': 30).

Namun di satu sisi, Allah juga pernah menjadikan hujan dan berlimpahnya air sebagai hukuman atas kaum pembangkang, seperti yang menimpa kaum Nabi Nuh 'Alaihissalam.
وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ
"Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta pengikutnya dari bencana yang besar. Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya." (QS. Al-Anbiya': 76-77).

Maka saat turun hujan, kaum muslimin yang menyaksikannya berharap agar hujan tersebut membawa kebaikan dan menjadi rahmat sebagaimana yang pernah diajarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Doa tersebut adalah:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI'A

Artinya: Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).

Diriwayatkan dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha,
 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ : اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا
"Adalah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam apabila melihat hujan beliau berdoa:  ALLAHUMMA SHAYYIBAN NAAFI'A (Ya Allah, -jadikan hujan ini- hujan yang membawa manfaat -kebaikan-." (HR. Al-Buhari).

Tags yang terkait doa waktu hujan: doa ketika hujan deras, doa ketika turun hujan, doa hujan, doa hujan rahmat, doa hujan lebat, doa hujan berhenti, doa hujan turun lebat, doa hujan turun.

Kamis, 27 Desember 2012

Rahasia Doa Mustajab Pada Hari Jumat

Allah SWT melebihkan hari Jum'at dari hari-hari lainnya dalam sepekan dengan banyak keutamaan. Di antaranya pada hari Jum'at terdapat suatu waktu yang doa seorang muslim pada waktu tersebut dikabulkan oleh Allah SWT, selama memenuhi syarat-syarat dan adab-adab berdoa.
 
Keutamaan terkabulnya doa pada waktu mustajab tersebut disebutkan dalam beberapa hadits. Di antaranya,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ قَالَ: «إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً، لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ، يَسْأَلُ اللهَ فِيهَا خَيْرًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ»، قَالَ: وَهِيَ سَاعَةٌ خَفِيفَةٌ.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, "Sesungguhnya pada hari Jum'at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang muslim mendapati waktu tersebut dan berdoa kepada Allah memohon kebaikan, melainkan Allah akan memenuhi permohonannya." Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bersabda, "Waktu tersebut hanya sebentar." (HR. Bukhari no. 6400 dan Muslim no. 852, dengan lafal Muslim).

Di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai kapan waktu mustajab tersebut. Sebagian ulama menyatakan sejak bakda Shubuh. Sebagian lain menyatakan sejak khatib naik mimbar sampai waktu dilaksanakan shalat Jum'at. Sebagian lain menyatakan waktu khatib duduk sebentar di antara dua khutbah. Dan sejumlah pendapat lainnya.

Pendapat yang paling kuat menyatakan waktu tersebut adalah satu jam terakhir di sore hari, yaitu satu jam sebelum matahari terbenam pertanda waktu shalat maghrib telah masuk. Hal ini berdasarkan sejumlah hadits shahih berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ، قَالَ: قُلْتُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ: إِنَّا لَنَجِدُ فِي كِتَابِ اللَّهِ: «فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُؤْمِنٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ فِيهَا شَيْئًا إِلَّا قَضَى لَهُ حَاجَتَهُ» . قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: فَأَشَارَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ» ، فَقُلْتُ: صَدَقْتَ، أَوْ بَعْضُ سَاعَةٍ. قُلْتُ: أَيُّ سَاعَةٍ هِيَ؟ قَالَ: «هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ» . قُلْتُ: إِنَّهَا لَيْسَتْ سَاعَةَ صَلَاةٍ، قَالَ: «بَلَى. إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ، لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ»

Dari Abdullah bin Salam Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sedang duduk, maka saya mengatakan, "Sesungguhnya kami (kaum Yahudi, sebelum ia masuk Islam, pent) mendapati dalam kitab Allah (Taurat, pent) bahwa pada hari Jum'at terdapat suatu jam (waktu) tertentu, tidaklah seorang mukmin mendapati waktu tersebut saat ia melaksanakan shalat dan berdoa kepada Allah memohon suatu keperluan, melainkan Allah akan memenuhi keperluannya."

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memberi isyarat kepadaku (Abdullah bin Salam) lalu bersabda, "Atau sebagian waktu (tidak satu jam penuh, pent)." Aku (Abdullah bin Salam) berkata: "Anda benar, memang sebagian waktu saja." Abdullah bin Sallam lalu bertanya, "Waktu apakah ia?" Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, "Waktu (satu jam) terakhir dari waktu siang hari." Abdullah bin Sallam berkata: "Tetapi waktu tersebut bukan waktu untuk shalat."
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, "Ia adalah waktu shalat. Sebab, jika seorang mukmin menunaikan shalat (Ashar) kemudian duduk di tempatnya menunggu shalat berikutnya (Maghrib), maka sesungguhnya selama itu tengah mengerjakan shalat." HR. Ibnu Majah no. 1139, Al-hafizh Al-Bushiri berkata: Sanadnya shahih dan para perawinya tsiqah).

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «يَوْمُ الْجُمُعَةِ ثِنْتَا عَشْرَةَ - يُرِيدُ - سَاعَةً، لَا يُوجَدُ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا، إِلَّا أَتَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ»

Dari Jabir bin Abdullah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, "Hari Jum'at terdiri dari dua belas jam. Tidak ada seorang muslim pun yang memohon sesuatu kepada Allah (pada suatu jam tertentu), melainkan Allah akan mengabulkannya. Maka carilah jam terkabulnya doa tersebut pada satu jam terakhir setelah shalat Ashar!" (HR. Abu Daud no. 1048 dan An-Nasai no. 1389, sanadnya baik, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, An-Nawawi, dan Al-Albani, dan dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar al-Aasqalani).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: التَمِسُوا السَّاعَةَ الَّتِي تُرْجَى فِي يَوْمِ الجُمُعَةِ بَعْدَ العَصْرِ إِلَى غَيْبُوبَةِ الشَّمْسِ.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, "Carilah satu jam yang diharapkan pada hari Jum'at pada waktu setelah shalat Ashar sampai waktu terbenamnya matahari!" (HR. Tirmidzi no. 489, di dalamnya terdapat seorang perawi yang lemah bernama Muhammad bin Abi Humaid az-Zuraqi. Namun hadits ini diriwayatkan dari jalur lain oleh Ath-Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Awsath dan dikuatkan oleh hadits Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Salam di atas).

Imam Sa'id bin Manshur meriwayatkan sebuah riwayat sampai kepada Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul dan saling berdiskusi tentang satu jam terkabulnya doa pada hari Jum'at. Mereka kemudian bubar dan tiada seorang pun di antara mereka yang berbeda pendapat bahwa satu jam tersebut adalah satu jam terakhir pada hari Jum'at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menyatakan riwayat imam Sa'id bin Manshur ini shahih. Beliau lalu berkata, "Pendapat ini juga dianggap paling kuat oleh banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Rahawaih, dan dari kalangan madzhab Maliki adalah imam ath-Tharthusyi. Imam Al-‘Allai menceritakan bahwa gurunya, imam Ibnu Zamlikani yang merupakan pemimpin ulama madzhab Syafi'i pada zamannya memilih pendapat ini dan menyatakannya sebagai pendapat tegas imam Syafi'i." Wallahu a'lam bish-shawab. 
Sumber: (muhib almajdi/arrahmah.com)

Tags yang terkait dengan waktu mustajab: waktu mustajab untuk doa, waktu mustajab sholat hajat, waktu mustajab di hari jumat, doa doa mustajab selepas solat, waktu yang baik untuk berdoa, waktu mustajab untuk berdoa forum.

alone.. dumb..

Dalam derita ada bahagia
Dalam gembira mungkin terselit duka
Tak siapa tahu
Tak siapa pinta ujian bertamu

Bibir mudah mengucap sabar
Tapi hatilah yang remuk menderita
Insan memandang
Mempunyai berbagai tafsiran

Segala takdir
Terimalah dengan hati yang terbuka
Walau terseksa ada hikmahnya
Harus ada rasa bersyukur


Di setiap kali ujian menjelma
Itu jelasnya membuktikan
Allah mengasihimu setiap masa
 

Diuji tahap keimanan
Sedangkan ramai terbiar dilalaikan
Hanya yang terpilih sahaja 

Antara berjuta mendapat rahmatNya
 

Allah rindu mendengarkan 
Rintihanmu berpanjangan
Bersyukurlah dan tabahlah 

menghadapi Segala takdir
 

Terimalah dengan hati yang terbuka
Walau terseksa ada hikmahnya

Allah rindu mendengarkan
Rintihanmu berpanjangan


Bersyukurlah dan tabahlah menghadapi
Segala ujian diberi
Maka bersyukurlah selalu


Album : Layar Keinsafan
Munsyid : Mestica

Minggu, 23 Desember 2012

Al-Qur'an Surat An-Nissa' Ayat 170-176

Terjemahan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 170 sampai dengan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 176, sebagai berikut: Al-Quran Surat An-Nissa' ayat 170: Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa yang di langit dan di bumi itu adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 171: Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 172: Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah dan tidak (pula enggan) malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barang siapa yang enggan dari menyembah-Nya dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 173: Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain daripada Allah.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 174: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an).

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 175: Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 176: Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sabtu, 22 Desember 2012

Al-Qur'an surat An-Nissa' ayat 161-169

Terjemahan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 161 sampai dengan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 169, sebagai berikut: Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 160 :Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 161: dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 162: Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur'an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 163:Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 164: Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 165: (Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 166:(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Qur'an yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 167:Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, benar-benar telah sesat sejauh-jauhnya.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 168: Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kelaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,

Al-Qur'an Surat An-Nissa' 169:kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Rabu, 19 Desember 2012

10 Waktu Mustajab Untuk Berdoa

waktu, mustajab, doa, makbul, kabulPada posting sebelumnya telah diuraikan Rahasia 7 Orang Yang Doanya Mustajab. Pada posting kali ini, akan dibahas waktu-waktu yang mustajab untuk melakukan doa. Doa adalah termasuk ibadah. Para dasarnya, kita boleh berdoa kapan dan dimana saja. Akan tetapi, di sana ada waktu-waktu tertentu yang mempunyai nilai lebih untuk dikabulkannya doa.

Allah telah memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, sekaligus berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan mereka kepada-Nya apabila terpenuhi syarat-syarat dan adab-adabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): 

“Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mu’min: 60).

Dalam ayat diatas Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Bahkan sebaliknya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam para hamba-Nya yang enggan untuk berdoa kepada-Nya karena telah jatuh kepada sifat kesombongan.

Para dasarnya, kita boleh berdoa kapan dan dimana saja. Akan tetapi, di sana ada waktu-waktu tertentu yang mempunyai nilai lebih untuk dikabulkannya doa. Pada posting kali ini, akan dijelaskan beberapa waktu-waktu mustajab untuk berdoa.
Diantara waktu-waktu mustajab untuk berdoa tersebut adalah:
1. Malam (lailatul) Qadar
’Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Wahai Rasulullah, apa petunjukmu bila aku mendapati malam (laitul) Qadar itu, apa yang harus aku ucapkan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ”Ucapkanlah (doa):
« اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ».
”Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai perbuatan memberi maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan An-Nasa`i dalam Al-Kubra).
2. Di sepertiga malam yang akhir dan di waktu sahur
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan salah satu sifat para hamba-Nya yang beriman dalam firman-Nya (artinya):
”Dan pada waktu akhir malam (waktu sahur) mereka memohon ampun.” (Adz-Dzariyat: 18)
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
« يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ » .
”Rabb kita Yang Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir seraya berfirman: ’Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku mengabulkan doanya. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan apa yang dimintanya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku maka aku akan mengampuninya’.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

3. Di akhir shalat fardhu
Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhuberkata: ”Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Wahai Rasulullah, doa apakah yang didengarkan (dikabulkan)?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
« جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرُ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ »
”Doa yang dipanjatkan di tengah malam yang akhir dan di akhir shalat wajib.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa`idalam Al-Kubra)
Para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan kata ((دُبُرَ)) dalam hadits diatas. Apakah maksudnya sebelum salam atau setelah salam dari shalat?
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata dalam kitabnya, Zadul Ma’ad, 1/378:
”(( وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ)) bisa jadi maksudnya sebelum salam dan bisa jadi setelahnya. Adapun Syaikh kami (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah) menguatkan pendapat yang menyatakan sebelum salam.”
Sedangkan Asy-Syaikh Ibnu ’Utsaimin rahimahullahberpandangan di akhir setiap shalat fardhu adalah sebelum salam, sehingga doa itu dipanjatkan setelah selesai membaca tasyahhud akhir dan shalawat sebelum mengucapkan salam sebagai penutup ibadah shalat. Beliau rahimahullahberkata: ”Riwayat yang menyebutkan adanya doa yang dibaca di ((دُبُر الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَات)), berarti doa itu dibaca sebelum salam. Sedangkan dzikir yang dinyatakan untuk dibaca di ((دُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ)), maka maksudnya dzikir itu dibaca setelah selesainya shalat. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya): ”Apabila kalian telah selesai dari mengerjakan shalat, berdzikirlah kalian kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring diatas lambung-lambung kalian.” (An-Nisa`: 103).


4. Antara adzan dan iqamah
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« لاَ يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ ».
”Tidak tertolak doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud).


5. Satu waktu di malam hari
Jabir radhiyallahu ‘anhuma berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« إِنَّ فِى اللَّيْلِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ».
”Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu yang tidaklah bersamaan dengan itu seorang muslim meminta kepada Allah kebaikan dari perkara dunia dan akhirat, melainkan Allah akan mengabulkan permintaan tersebut, dan itu ada di setiap malam.” (HR. Muslimdan Ahmad)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan: “Pada hadits tersebut terkandung adanya penetapan satu waktu mustajab pada setiap malam, dan anjuran untuk berdoa di waktu-waktu malam dengan harapan bertepatan dengan waktu mustajab tersebut.” (Al-Minhaj, 3/95).


6. Ketika terbangun di waktu malam
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
“Barangsiapa yang terbangun di waktu malam lalu mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . الْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
Kemudian mengucapkan:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Atau berdoa, maka dikabulkan (doanya). Dan jika berwudhu’ kemudian melaksanakan shalat maka shalatnya diterima.” (HR. Al-Bukhari)
Sebagian ulama mengatakan: “Dalam keadaan seperti ini lebih diharapkan terkabulkannya doa begitu juga diterimanya shalat  dibandingkan waktu/keadaan yang lainnya.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 8/311).


7. Ketika dikumandangkannya adzan dan dirapatkannya barisan, berhadapan dengan barisan musuh di medan tempur
Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhuma berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Dua waktu/keadaan yang didalamnya dibukakan pintu-pintu langit dan jarang sekali tertolak doa yang dipanjatkan ketika itu, yaitu saat diserukan panggilan shalat (adzan) dan saat berada dalam barisan di jalan Allah (ketika berhadapan dengan musuh di medan perang, pent).” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqydalam Al-Kubra).


8. Suatu waktu pada hari Jum’at
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang hari Jum’at, beliau bersabda:
« إِنَّ فِى الْجُمُعَةِ لَسَاعَةً لاَ يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّى يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا».
”Sesungguhnya di hari Jum’at itu ada suatu waktu yang tidaklah waktu tersebut bertepatan dengan seorang muslim yang sedang melaksanakan shalat, lalu meminta kepada Allah suatu kebaikan, kecuali pasti Allah akan mengabulkannya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan singkatnya waktu tersebut. (Muttafaqun ’alaihi).
Ulama berbeda pendapat tentang batasan waktunya. Ada yang mengatakan waktunya adalah saat masuknya khatib ke masjid. Ada yang mengatakan ketika matahari telah tergelincir, ada yang mengatakan setelah shalat ashar, dan ada pula yang mengatakan waktunya dari terbit fajar sampai terbit matahari. (Al-Minhaj, 6/379).
Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (1/378), berpendapat bahwa pendapat yang lebih tepat dalam permasalahan ini adalah bahwa waktunya setelah shalat ashar, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Sesungguhnya pada hari Jum’at itu ada suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim memohon suatu kebaikan kepada Allah, kecuali pasti Allah akan mengabulkannya, dan waktunya adalah setelah shalat ashar.” (HR. Ahmad).


9. Ketika sujud
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ ».
”Paling dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud maka perbanyaklah oleh kalian doa ketika sedang sujud.” (HR. Muslim).


10. Doa pada hari Arafah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
« خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ ».
”Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Baihaqy)

Doa adalah termasuk ibadah. Doa adalah kebutuhan makhluk kepada Sang Maha Pencipta. Oleh karenanya, sudah semestinya kita mencukupkan dengan apa-apa yang telah dicontohkan oleh junjungan dan suri tauladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam pelaksanaannya. 

Suatu misal, jika kita mau menggunakan pembukaan ketika hendak berdoa, maka bukalah doa tersebut dengan pembukaan yang syar’i (yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Bukan dengan pembukaan-pembukaan yang tidak syar’i (yang tidak ada tuntunannya), karena akibatnya fatal, doa kita bisa tidak dikabukan. Disisi lain, kita bisa menuai dosa karena telah mengadakan perkara yang baru dalam urusan  agama. Sumber: Buletin Al Ilmu.

Tags yang terkait dengan waktu mustajab: waktu mustajab untuk doa, waktu mustajab sholat hajat, waktu mustajab di hari jumat, doa doa mustajab selepas solat, waktu yang baik untuk berdoa, waktu mustajab untuk berdoa forum.

Selasa, 18 Desember 2012

The Shade of The Day of Judgement - Mufti Ismail Menk


Rasulullah saw menjelaskan satu keadaan yang amat menggerunkan pada hari kiamat dalam sepotong hadis yang bermaksud:

“ Pada hari kiamat didekatkan matahari kepada makhluk sehingga jaraknya satu batu (sama ada ukuran sekarang ataupun akhirat). Pada ketika itu , manusia berada di dalam peluh masing-masing menurut kadar amalan jahat yang dilakukan. Ada yang (peluhnya) sekadar sampai di buku lali, lutut, pinggang dan mulut (sambil Baginda menunjukkan isyarat ke mulutnya). (Riwayat Muslim dan al-Termizi)


Pada saat tersebut, manusia mencari tempat berteduh untuk berlindung daripada kepanasan. Sebanyak manapun harta kekayaan yang dimiliki semasa di dunia dahulu sudah tidak dapat membantu lagi, kecuali harta yang dibelanjakan dengan cara yang diredhai oleh Allah swt.

Namun, terdapat beberapa golongan VIP tertentu yang dijanjikan oleh Rasulullah saw untuk mendapat tempat “grandstand berbumbung” pada saat genting itu. Abu Hurairah meriwayatkan Baginda bersabda yang bermaksud:

“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada hari yang mana tiada naungan selain naungan Allah swt”.

Tujuh golongan tersebut adalah:

VIP 1: Pemimpin yang Adil

Golongan ini diletakkan di dalam senarai yang pertama kerana dia bakal melahirkan ramai lagi calon untuk mengisi enam golongan seterusnya. Dalam kitab Dalil Al-Falihin menerangkan makna adil sebagai mematuhi segala perintah Allah swt dengan meletakkan sesuatu kena pada tempatnya.

Pemimpin yang adil akan meletakkan Allah dan Rasulullah saw sebagai rujukan utama dalam setiap keputusan yang diambil. Golongan ini diketuai oleh Rasulullah saw yang menjadi Perdana Menteri di Negara Madinah selama 10 tahun, diikuti oleh Khulafa’ Al-Rasyidin dan setiap pemimpin yang berusaha mencontohi mereka dalam kepimpinan.

VIP 2 : Remaja yang Hidup dalam Ketaatan

Usia remaja sangat mencabar kerana pelbagai pengaruh menghantui mereka sama ada melalui rakan sebaya, media cetak, elektronik dan lain-lain. Jiwa remaja sentiasa ingin mencuba sesuatu yang baru terutama yang menyeronokkan seperti mempunyai pasangan kekasih, merokok, berlumba haram, berkaraoke,  dan pelbagai aktiviti yang ada kalanya mengakibatkan kesan yang sangat negatif terhadap kehidupan mereka.

Namun di celah-celah keributan gejala sosial ini masih ada remaja yang menjaga agama mereka.  Mereka berkawan, berseronok, beraktiviti seperti biasa, namun, batasan agama sentiasa dipatuhi. Halal dan haram menjadi pertimbangan utama dalam kehidupan walaupun ia dipandang asing oleh rakan sebaya. Golongan ini layak menerima naungan Allah swt di akhirat kelak sebagai ganjaran terhadap kekuatan “antibodi” yang menepis segala pujuk rayu maksiat pada usia remajanya.

VIP 3 : Pencinta Masjid

Sepanjang sejarah Islam, terdapat golongan manusia yang hatinya sentiasa terikat dengan masjid. Mereka sanggup berkorban apa sahaja demi menghidupkan fungsi masjid di atas muka bumi ini. Setiap kebaikan yang berlaku di masjid pasti menggembirakannya dan sebarang usaha atau tindakan untuk mengganggu institusi masjid akan menyentap emosi mereka secara spontan.

Golongan ini mempunyai lima sifat sebagaimana firman Allah swt dalam surah At-Taubah ayat ke 18 iaitu keimanan yang kukuh kepada Allah swt dan hari akhirat, sentiasa mendirikan solat, menunaikan zakat dan tidak pernah takut dalam menjalankan tanggungjawab agama melainkan kepada Allah.

VIP 4: Dua Insan yang Berkasih Sayang kerana ALLAH

Berkasih sayang adalah soal hati. Ia merupakan satu perasaan yang tidak boleh dilakonkan atau dibuat-buat oleh seseorang. Setiap insan pasti ada orang yang dikasihinya sama ada ahli keluarga, sahabat handai ataupun tokoh yang dikagumi. Persoalannya, atas dasar apakah kasih sayang itu dibina?

Sekiranya kerana wajah yang jelita, harta yang melimpah atau kepentingan duniawi yang lain, maka mereka masih belum layak untuk mendapat naungan Allah di akhirat nanti. Perasaan mengasihi kerana Allah lahir apabila melihat seseorang yang sangat bersungguh-sungguh mentaati Allah dalam segenap urusan hidupnya. Persahabatan yang terjalin kerana Allah ini akan menjadikan setiap pertemuan dan perpisahan yang berlaku sebagai urusan agama.

VIP 5 : Pemuda yang Menolak apabila Digoda untuk Berzina

Golongan kelima yang dijanjikan naungan Allah ialah pemuda yang digoda berzina oleh perempuan yang cantik dan berkedudukan, namun dia menolaknya dan berkata:

“Aku takut kepada Allah!”
 
Nafsu dan keinginan orang muda pastinya sentiasa hangat, tambahan pula digoda oleh perempuan cantik dan pangkat yang dimilikinya boleh ‘dimanfaatkan’ untuk mengelak daripada sebarang hukuman atau tindakan daripada pihak tertentu. Dalam keadaan ‘line clear’ ini, anak muda tersebut masih mengingati Allah dengan tegas membuktikan ketakutannya terhadap kemurkaan Allah mengatasi gelojak nafsunya. Dia pasti akan bersama Nabi Yusuf a.s di akhirat kelak bersama-sama para bidadari yang disediakan oleh Allah.

VIP 6: Insan yang Menyembunyikan Sedekahnya

Terdapat insan yang sentiasa “berurus niaga” dengan Allah apabila pelaburannya sentiasa dijuruskan untuk mencapai martabat kemuncak keikhlasan sehingga Rasulullah saw mentamsilkan bersedekah dengan tangan kanan, sehingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan.
Tidak pernah terdetik di hatinya untuk mendapat pujian daripada manusia yang berada di sekeliling sehingga meninggikan nilai pahalanya walaupun jumlah sedekahnya kecil pada penilaian manusia. Apatah lagi ketika mereka bersedekah dengan jumlah yang besar di samping hatinya yang sangat suci, pasti melayakkan mereka bersama-sama para hartawan daripada kalangan para sahabat Rasulullah saw di akhirat nanti.

VIP 7: Insan yang Mengingati Allah sehingga menitis Air Mata

Golongan terakhir ialah insan yang begitu tekun bermuhasabah tentang diri mereka sehingga menitis air mata di kala berseorangan. Mereka memikirkan dosa-dosa lampau dan betapa banyaknya perintah Allah yang belum ditunaikan. Ayah dan ibu memikirkan anak-anaknya yang tidak menutup aurat, peniaga pula mengingatkan tipu helahnya ketika melariskan jualan, manakala si anak mengimbau dosa-dosa terhadap kedua-dua ibu bapanya dan pelbagai situasi lagi yang akhirnya menyebabkan mutiara-mutiara jernih mengalir di pipi semata-mata kerana Allah swt.

Penulisan : Ustaz Syed Mohd Norhisyam
Sumber : Solusi Isu # 45, m/s 12-13

PENAWAR BAGI SEGALA CABARAN KEHIDUPAN


Sabtu, 15 Desember 2012

HIJRAH



Sering daku terkenang
Hijrah gemilang
Berubah dunia
Gelap menjadi terang

Berguguran air mata
Tidak kurasa
Meski bibir tanpa suara
Ku terus berdoa

Biar nafas menjadi lelah
Kupasti hijrah kerana Allah
Biar kakiku terasa lemah
Menyusuri kekasih-Mu ya Allah

Pengorbanan abadi
Menerangi bumi
Hijrah bagai hujan
Menyuburi hati

Hijrah satu kebenaran
Sepanjang zaman
HIjrah satu kemenangan
Musafir perjuangan

Selasa, 11 Desember 2012

cukuplah ALLAH


MENYAYANGI, tidak semestinya DEKAT,
MENCINTAI, tidak semestinya ERAT,
kerana semuanya ALLAH yang punya..
CUKUPLAH ALLAH...

semua Allah yang punya
semua Allah yang punya
semua Allah yang punya

cukuplah Allah
cukuplah Allah
cukuplah Allah


-pesanan buat diriku-




Rabu, 05 Desember 2012

Al-Qur'an Surat An-Nissa' Ayat 147-159

Terjemahan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 147 sampai dengan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 159, sebagagai berikut:

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 147: Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 148: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 149: Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 150: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasu-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir),

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 151: merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 152: Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 153: Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir karena kelalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami maafkan (mereka) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 154: Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: "Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka: "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 155: Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: "Hati kami tertutup." Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 156: Dan karena kekafiran mereka (terhadap Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 157: dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 158: Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 159: Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Kamis, 22 November 2012

Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 135-146

Terjemahan Al-Qur'an Surat An-Nissa' ayat 135  sampai dengan Surat An-Nissa' ayat 146, sebagai berikut : Surat An-Nissa' ayat 135: Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.

Surat An-Nissa' ayat 136: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Surat An-Nissa' ayat 137: Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Surat An-Nissa' ayat 138: Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

Surat An-Nissa' ayat 139: (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Surat An-Nissa' ayat 140: Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam,

Surat An-Nissa' ayat 141: (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?" Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.f

Surat An-Nissa' ayat 142:  Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.

Surat An-Nissa' ayat 143: Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Surat An-Nissa' ayat 144: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?

Surat An-Nissa' ayat 145: Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Surat An-Nissa' ayat 146: Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Kamis, 08 November 2012

Refleksi diri: Perang Tabuk, Antara Yang Taqwa dan Yang Munafik

Assalamua’laikum wbt,

Sekadar perkongsian, semoga bermanfaat.

Perang tabuk, sebuah peperangan yang di pimpin Rasulullah untuk menghadapi bangsa Romawi, sebuah peperangan yang menjadi sebuah pembeda antara mereka yang taqwa dan yang munafik. Perang ini dilakukan oleh Rasulullah pada masa-masa sulit bagi kaum muslimin saat itu, dimana cuaca yang sangat panas sekali, musim kemarau, dan pada saat itu pula buah-buahan mulai ranum sehingga menyebabkan orang-orang lebih suka pada tempat-tempat mereka berteduh daripada ikut berperang bersama Rasulullah.

Kondisi inilah yang telah membuat sebagian kaum muslimin yaitu orang-orang munafik lebih memilih tinggal di rumah-rumah mereka daripada pergi berperang, Padahal perang yang akan dilakukan oleh Rasulullah tersebut membutuhkan bala tentara yang cukup besar karena Beliau akan menghadapi bangsa Romawi yang dalam jumlah besar pula. Pada perang kali ini sikap Rasulullah tidak lah biasanya sebagaimana ketika akan perang pada perang-perang sebelumnya, dimana pada perang-perang sebelumnya Rasulullah selalu merahasiakan tentang peperangan yang akan di tuju namun pada perang Tabuk ini Rasulullah menjelaskannya kepada kaum muslimin tidak lain adalah agar kaum muslimin bersiap-siap karena peperangan yang akan dilakukan itu akan menempuh perjalanan yang panjang, masa-masa yang sulit, dan banyak musuh yang ingin beliau tuju.

Kondisi yang sangat sulit tersebut menyebabkan dari kaum muslimin banyak yang meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut berperang dengan berbagai alasan. Salah satunya adalah Al-jadd bin Qais dari Bani Salamah. Suatu ketika saat kaum muslimin tengah bersiap-siap untuk pergi berperang, Rasulullah bersabda kepada Al-jadd “Hai al-jadd apakah tahun ini engkau ikut memerangi orang-orang berkulit kuning (Romawi)? Al-jadd berkata, “Wahai Rasulullah berilah aku izin dan engkau jangan menjerumuskanku kedalam fitnah. Demi Allah, kaumku telah mengenaliku bahwa tidak ada orang laki-laki yang cepat tertarik kepada wanita daripada aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat wanita-wanita berkulit kuning, maka aku tidak sabar.” Rasulullah memalingkan muka dari al-jadd dan bersabda “aku mengizinkan”.

Dalam riwayat tersebut terlihat jelas sebuah alasan yang dibuat oleh orang-orang munafik agar lepas dari beban untuk ikut serta dalam perang Tabuk. Sehingga tentang al-jadd ini turunlah firman Allah Ta'ala dalam surat

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah". Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.(At-taubah:49)

Tidak sampai disitu saja, orang-orang munafik itu pun selain mencari-cari alasan untuk tidak ikut berperang mereka juga memprovokasi orang-orang mukmin lainnya agar untuk tidak ikut berperang juga. Memang seperti ini lah watak dari golongan munafik yang terkadang justru lebih membahayakan dari pada kaum kafir dzimmi, yang mereka bagai duri dalam daging.

Namun pada perang tabuk ini juga telah menunjukan siapa saja orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang memiliki keimanan yang tinggi yang mereka rela menginfaqkan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka lebih memilih keridhaan Allah dan Rasul-Nya daripada kebun-kebuh mereka yang tengah berbuah atau rumah-rumah tempat berteduh mereka yang nyaman. Di antara mereka adalah sahabat Rasulullah Ustman bin Affan Ra yang menginfaqkan hartanya sebanyak seribu dinar untuk keperluan tentara yang mengalami kesulitan pada perang Tabuk. Hingga Rasulullah bersabda “Ya Allah, ridhailah Ustman, karena aku ridha kepadanya”. Dalam suatu kisah yang lain bahkan ada para sahabat yang sampai menangis lantaran mereka tidak dapat ikut berperang dengan Rasulullah. dalam kisahnya ada 7 orang sahabat yang datang kepada Rasulullah, setelah bertemu dengan Rasulullah mereka semua meminta Rasulullah untuk membiayai persiapan jihad mereka karena mereka orang-orang miskin. Namun Rasulullah menjawab dalam sabdanya "Aku tidak mempunyai apa-apa untuk membiayai jihad kalian".

Lalu mereka pun keluar dalam keadaan sedih dan menangis lantaran tidak dapat ikut serta dalam peperangan tersebut. Dalam perjalanan dari rumah Rasulullah mereka berjumpa dengan Ibnu Yamin. Ibnu Yamin yang pada waktu itu berpapasan dengan mereka melihat mereka menangis lantas bertanyalah Ibnu Yamin "kenapa engkau menangis?" mereka menjawab "Kami datang kepada Rasulullah untuk meminta beliau membiayai persiapan jihad kami, namun Rasulllah tidak memiliki apa-untuk membiayai kami,karena kami tidak mempunyai bekal untuk berangakat berperang". Kemudian Ibnu Yamin memberikan 2 untanya dan beberapa kurma untuk mereka dan setelah itu mereka pun ikut serta bersama Rasulullah dalam peperangan.

Selain dari mereka juga ada 3 orang sahabat yang dikenal baik keislamanya dan mereka bukan lah seorang yang dikenal sebagai orang yang munafik. Salah satu dari mereka adalah Ka'ab bin Malik Ra. Sejak islamny Ka'ab bin malik, ia tidak pernah ketinggalan sekali pun dalam setiap peperangan kecuali pada perang badar. namun pada perang Tabuk ini ia tidak ikut serta bersama yang lainnya untuk pergi berperang. Hal ini disebabkan lantaran pada masa-masa perang Tabuk itu Ka'ab bin Malik sedang dalam kondisi kaya Raya dan juga di dukung dengan keadaan dimana buah-buahan telah ranum dan tempat berteduh diminati banyak orang sehingga ia menunda-nunda untuk melakukan persiapan untuk ikut dalam perang Tabuk tersebut. Hal itu terjadi terus menerus sampai-sampai pasukan telah siap untuk berangkat pergi berperang. Dalam kondisi itu Ka'ab bin Malik berkata pada dirinya "aku akan bersiap-siap besok atau besok lusanya, kemudian aku akan menyusul mereka". Setelah kaum muslimin berangkat, Ka'ab bin malik keluar rumah untuk bersiap-siap dan bertekad akan menyusul rombongan kaum muslimin namun ia tidak jadi dan menundanya pada keesokan harinya, pada hari berikutnya pun ia tunda lagi sampai berhari-hari kemudian ia sama sekali belum bersiap-siap hingga kaum muslimin telah berjalan jauh dan tidak terkejar lagi. Hingga pada akhirnya ia pun tidak jadi berangkat dan tetap berada di madinah.

Pada suatu pagi Rasulullah beserta Rombongan kaum muslimin telah pulang dari berperang, dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setiap setelah pulang dari perjalanan beliau langsung menuju masjid dan shalat 2 rakaat lalu keluar duduk-duduk bersama penduduk lainnya. pada saat itu para orang-orang munafik pun berbondong-bondong mendatangi Rasulullah yang jumlahnya sekitar 80 orang, mereka bersumpah kepada beliau dan meminta udzur atas ketidak ikut sertaan. Namun Ka'ab bin Malik tidak melakukan hal serupa, ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan dengan jujur perihal ketidak ikut sertaannya dalam berperang. Setelah menceritakan perihal ketidak ikut sertaannya kepada Rasulullah, Rasulullah bersabda "Adapun orang ini(Ka'ab bin Malik) berkata benar. Berdirilah dan pulanglah hingga Allah memberi putusan tentang dirimu". Tidak lama setelah itu Rasulullah memberikan perintah kepada orang-orang untuk tidak berbicara dan menjahui Ka'ab bin malik beserta 2 sahabat yang lainnya yang juga berperilaku sama sebagaimana Ka'ab.

Mereka dalam kondisi seperti itu selama 50 malam, dalam kondisi itu Ka'ab bin malik beserta 2 sahabat lainnya merasakan seakan akan tidak mengenal lagi dengan dunia ini. Dalam pengasingan tersebut 2 sahabat lainnya lebih memilih berdiam di rumah sampai keputusan Allah turun, namun tidak bagi Ka'ab bin Malik yang tetap keluar rumah, ke pasar, dan juga berjamaah ke masjid namun tidak seorang pun mau berbicara dengannya. pernah suatu saat, ketika ia ke masjid melihat Rasulullah, lantas ia mendekati Rasulullah dan mengucapkan salam kepada beliau sambil berharap Rasulullah menjawab salamnya, kamudia Ka'ab mengerjakan shalat di samping Rasulullah guna mencuri-curi pandangan kepada beliau. Jika Ka'ab mengerjakan shalat Rasulullah melihatnya tapi ketika ia menoleh maka Rasulullah memalingkan wajahnya. Hal tersebut terus terjadi hingga hari ke-40, pada hari ke-40 seorang utusan Rasulullah datang kepada Ka'ab dan 2 sahabat yang lainnya menyampaikan kepada mereka untuk menjahui istri-istri mereka pula. Hal itu berlangsung 10 hari, hingga pada pagi hari pada hari ke-50 Ka'ab keluar rumah untuk menunaikan shalat shubuh dan setelah itu ia pergi ke gunung sala' dan mendirikan tenda disana. Tiba-tiba seorang penyeru berteriak keras "Hai Ka'ab bin Malik bergembiralah!", seketika itu Ka'ab bersujud karena solusi telah tiba. Rasulullah mengumumkan diterimanya taubat Ka'ab bin Malik beserta 2 orang sahabat yang lain. (Oleh Firdaus, BKLDK Malang)

Refleksi diri:
Buat perkongsian dan peringatan diri. 

-Tertarik untuk kaji kisah ini apabila diizinkan Allah membaca tafsir surah at-tawbah 75-93. Rasa gerun dan takut kalau termasuk dalam golongan yang disebut dalam ayat ini. Lagi sedih jika ayat ini diturunkan kepada kita.

-Jadi, bagaimana setelah membaca kisah di atas?
Sekarang kita hubungkan dengan kehidupan saat ini. Kalau Ka’ab bin Malik tidak hadir perang, kalau kita saat ini kita hubungkan dengan amanah-amanah kita. Bagaimana sikap kita ketika mendapat seruan untuk dakwah? Bagaimana sikap kita ketika mendapatkan amanah? Apakah kita memiliki ruhul istijabah dan bersegera untuk melaksanakannya? Apakah justru sebaliknya kita merasa enggan, malas dan akhirnya tidak berangkat seperti kisahnya Ka’ab bin Malik itu?

Kondisi yang dialami Ka’ab bin Malik saat itu adalah contoh kondisi ketika mengalami futur, ketika kondisi keimanannya lemah. Ka’ab bukan termasuk golongan orang munafik yang mengudzurkan dirinya untuk tidak ikut perang dengan berbagai alasan. Tetapi beliau jujur kepada Rasulullah menyadari kesalahannya dan bertaubat. Beliau segera bangkit dari kondisi futurnya dan ikhlas menerima hukuman apapun. Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita akan mengudzurkan diri kita dengan berbagai alasan ketika kita diberi amanah, padahal alasan sebenarnya karena kemalasan kita. Apakah kita akan menyalahgunakan kepandaian kita untuk membuat-buat alasan. Apakah kita sering tidak datang syuro tanpa alasan yang syar’i karena kita malas atau mendahulukan yang lain yang tidak penting. Atau mungkin datang tapi sengaja lewat karena menunda-nunda keberangkatannya tanpa ada uzur apapun. Padahal dalam sebuah ayat Al Qur’an, kita disuruh untuk berangkat jihad dalam keadaan merasa berat maupun ringan. kita semak surat At-Taubah:41-49.
Dan bagaimana pula sikap kita jika kita ditegur terhadap kekhilafan kita? Apakah kita akan ikhlas menerimanya dan berusaha memperbaikinya serta bersikap tajarud seperti halnya Ka’ab ataukah kita justru murung, merasa kecewa dan akhirnya keluar dari jalan ini. 

Tetapi jika ada saudara kita yang melakukan kekhilafan atau futur seperti Ka’ab dan dua orang sahabatnya itu jangan kita memperlakukan saudara kita seperti mereka, mengasingkan sampai 50 hari gitu dan semakin terperosok dalam kefuturan dan akhirnya malah semakin berguguran di jalan dakwah. Wallahu a’alam bishowab.

p/s: maaf bahasa Indonesia.

Jangan dilihat pada siapa yang menyampaikan, lihat apa yang disampaikan. Kerana diri ini juga tidak sempurna dan banyak kelemahannya. Sesungguhnya apa yang dikatakan akan diuji, tetapi jika tiada siapa yang menyampaikan, maka tiadalah dakwah. Semoga Allah permudahkan segala urusan kita. 
Wassalam.

Rujukan:
-http://dakwahkampus.com/nafsiyah-islamiyah/kisah/1440-perang-tabuk-antara-yang-taqwa-dan-yang-munafik.html
-http://embuntarbiyah.wordpress.com/2007/07/13/kisah-ka%E2%80%99ab-bin-malik-dalam-perang-tabuk/#comment-1039
-http://ms.wikipedia.org/wiki/Perang_Tabuk
-buku golongan tercicir.